UMKM Perikanan Diajak Berinovasi Perkecil Susut dan Limbah Pangan

UMKM Perikanan Diajak Berinovasi Perkecil Susut dan Limbah Pangan
Ilustrasi (Antara)

INILAH, Jakarta - Para pelaku UMKM  sektor perikanan diajak untuk berinovasi dan berusaha memperkecil susut dan limbah pangan agar tetap produktif di tengah pandemi Covid-19.

Ketua Umum Jejaring Pasca Panen untuk Indonesia (JP2GI) Dr Soen’an Hadi Poernomo, Senin (149/2020), menyebutkan di tengah pandemi Covid-19, UMKM khususnya yang bergerak dalam bidang perikanan harus terus berinovasi dan berusaha memperkecil susut dan limbah pangan agar usaha dapat berjalan optimal.

“Hal ini penting karena selama pandemi, bisnis UMKM yang bersinggungan dengan masalah perikanan terimbas signifikan sebab menurunnya permintaan, transportasi terhambat, dan gudang berpendingin terbatas,” katanya.

Pihaknya menggandeng GAIN (Global Alliance for Improved Nutrition) Indonesia berupaya untuk meningkatkan kesadaran dalam mengurangi susut dan limbah pangan agar dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia.

“Kami terus berupaya membantu para pelaku UMKM di bidang pengolahan ikan untuk berani berinovasi di tengah pandemi,” katanya.

Salah satu fokus yang menjadi sasaran adalah UMKM khususnya sektor perikanan, dimana setiap tahun, GAIN menyelenggarakan lomba inovasi bisnis untuk mengurangi susut hasil pascapanen perikanan dan JP2GI kemudian meneruskan dukungan tersebut.

“Kami berupaya menciptakan ekosistem usaha yang baik agar produk-produk tersebut dapat sampai ke masyarakat dengan skala besar dan harga yang terjangkau,” katanya.

Pihaknya memfasilitasi inovator dan UMKM peserta lomba, juga penerima dana hibah JP2GI untuk bekerja sama dengan pihak swasta dan pemerintah.

“Sebagian produk seperti coldbank, co-fresh, IFIT, serealikan, Hokkymie, sudah ada di pasaran. Ini tidak hanya membantu ekonomi para inovator tetapi juga telah membantu upaya menurunkan susut hasil pascapanen perikanan,” kata Soen’an.

Senada dengan itu County Director GAIN Indonesia, Ravi Menon melihat pandemi Covid-19 membuat perekonomian terkena imbasnya.

Oleh sebab itu, pihaknya berharap bisnis UMKM bisa menjadi salah satu solusi pendapatan masyarakat golongan menengah ke bawah dan solusi bagi penyediaan makanan bergizi untuk masyarakat.

"Dari data total jumlah bisnis UMKM yang mencapai sekitar 8 jutaan di Indonesia, di saat pandemi telah meningkat sekitar 20 persen. Karena itulah pemberdayaan bisnis UMKM akan menjadi pola hidup masyarakat di dalam mendapatkan penghasilan baik sebagai penghasilan tambahan maupun penghasilan tetap,” katanya.

Sektor kelautan dan perikanan, kata dia, merupakan bisnis UKM unggulan karena bahan baku dan rantai pasoknya memudahkan pebisnis dalam mengelola usahanya.

Selain itu, diharapkan kelompok UMKM pengolah produk perikanan juga harus siap memproduksi produk-produk perikanan siap saji dan siap masak yang banyak diminati selama pandemi.

“Dan melakukan inovasi pemasaran, misalnya melalui pemasaran digital. Bantuan pelatihan dari pemerintah untuk UMKM termasuk terkait platform pemasaran harus segera dimanfaatkan dengan optimal oleh UMKM," tandas Ravi. (antara)