Inilah Batasan Gerakan Salat yang Membatalkan

Inilah Batasan Gerakan Salat yang Membatalkan
Ilustrasi/Antara Foto

TERKADANG kita lupa mematikan ringthone hp, sehingga saat ada panggilan masuk saat sedang shalat hp berbunyi.

Kemudian bingung mau bertindak bagaimana, antara khawatir mengganggu kekhusyuan sholat jamaah shalat, dan takut kalau sholatnya batal karena banyak gerak disebabkan mematikan hp.

Para ulama sepakat, bahwa banyak gerak dalam shalat secara terus-menerus, dapat membatalkan shalat. Hanya saja yang mereka perselisihkan dalam hal batasannya:

Hanafiyah berpendapat batasannya adalah, saat orang yakin menilainya, bahwa ia tidak lagi disebut sholat. Bila ragu dalam penilaiannya, berarti gerakan tersebut dihukumi sedikit.

Malikiyah, tidak jauh beda dengan Hanafiyah. Menurut mereka, perbuatan itu dinilai banyak, bila orang yang melihatnya menyangka bahwa orang yang melakukan gerakan tersebut, seperti tidak sholat. Dan Malikiyah menyamakan antara sengaja dan yang tidak sengaja.

Syafiiyah dan Hanabilah menyatakan, batasannya kembali kepada urf (budaya masyarakat setempat). Bila suatu gerakan dipandang oleh masyarakat setempat, bahwa itu gerakan yang banyak, maka batal. Bila mereka memandangnya sedikit, maka tidak batal. (Lihat: Mausuah al Fiqhiyah al Kuwaitiyyah 28/127-128).

Pendapat yang terakhir inilah yang nampaknya lebih tepat wallahualam-. Mengingat tidak adanya dalil yang menjelaskan batasannya. Oleh karena itu lebih tepat dikembalikan kepada urf.

Syaikh As Sadi rahimahullah dalam nadzom Qawaid fiqhiyah mengatakan,

"Urf diberlakukan kepada hukum yang syariat tidak merinci batasan-batasannya."

Maksudnya adalah, saat terdapat hukum syari, yang tidak ditemukan rinciannya dalam nash (Alquran maupun hadis), maka keterangan batasannya dikembalikan kepada urf.

Al Qodhi al Husain rahimahullah ; salah seorang ulama mazhab Syafii, menggolongkan merujuk kepada urf, termasuk dalam lima kaidah yang disepakati untuk menentukan hukum fikih. Diantaranya berlaku dalam hal berikut,

Salah satu fungsi urf adalah untuk mengetahui sebab hukum, yang diukur melalui sifat yang berkaitan dengan hukum syari. Misalnya kecil besarnya dobbah perak (semacam kunci pintu yang terbuat dari perak, pent), tebal tipisnya jenggot, dekat jauhnya jarak rumah, dan banyak sedikitnya perbuatan atau ucapan di dalam shalat. (Fathul Bari jilid 5, hal. 687).

Wallahualam bis Showab. [Ustadz Ahmad Anshori]