Adaptasi Kebiasaan Baru Menurut Pemerhati Publik dari Unpas

Adaptasi Kebiasaan Baru Menurut Pemerhati Publik dari Unpas
Ilustrasi (net)

INILAH, Bandung - Hampir selama kurang lebih enam bulan, Indonesia atau di belahan dunia lain terserang sebuah pandemi Covid-19. Dan selama itu pula, angka kenaikan masyarakat yang terpapar oleh virus tersebut terus meningkat, tak terkecuali di Kota Bandung dan Cimahi.

Setelah berjuang di awal bulan Maret sampai sekitar bulan Juni atau Juli dengan penerapan PSBB yang sangat ketat, pada akhirnya gubernur beserta wali kota menghapuskan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diganti dengan istilah new normal atau adaptasi kehidupan baru (AKB).

Pasca adaptasi kehidupan baru tersebut masyarakat yang terjangkit virus pun mengalami peningkatan. Hal ini diklaim oleh pemerintah sebagai bukti bahwa masyarakat belum sepenuhnya bisa menjalankan AKB tersebut.

Dua kota yaitu Bandung dengan status oranye dan Cimahi berstatus merah mulai kembali mengingatkan masyarakatnya untuk mengikuti protokol kesehatan yang dimulai dengan sosialisasi dan eksekusi.

"Eksekusi terjadi pada hari ini Selasa 15 September 2020 dengan menggelar razia yustisi di beberapa tempat. Ini sebagai tanggapan pemerintah dalam menyikapi meningkatnya jumlah kasus positif di dua kota tersebut," ujar Pemerhati Publik, Erik Rusmana, Selasa (15/9/2020).

Erik mengatakan penerapan AKB yang diperketat ini sebaiknya dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Komprehensif bukan hanya dilaksanakan pada tataran area yang seperti biasanya, akan tetapi lebih baik lagi ke tingkat yang lebih bawah lagi.

Misalnya saja, masih banyak ditemukan di beberapa tempat pemukiman warga yang di mana masyarakatnya baik orang dewasa mau pun anak-anak berkegiatan tanpa menerapkan protokol kesehatan yang sebagaimana mestinya.

Lalu, yang paling penting adalah bagaimana berbagai macam elemen pemerintahan bekerja sama dengan masyarakat dengan menyadarkan masyarakatnya. Tanpa kesadaran masyarakat, bahaya paparan virus ini nampaknya kurang menjadi perhatian.

“Jika ditilik lagi dari beberapa bulan ini, peningkatan transmisi virus ini berhasil ketika masa PSBB, akan tetapi ketika PSBB berubah menjadi AKB, maka kecenderungan masyarakat menjadi lalai kembali, dan seolah lupa bahwa virus ini masih hidup di tengah masyarakat," papar Dosen Sastra Inggris Universitas Pasundan (Unpas) ini.

Menurut Erik, pemberian sanksi mungkin menjadi satu hal yang diyakini mampu menekan penyebaran virus ini, tapi pemberian sanksi ini mungkin hanya akan efektif ketika razia dilakukan, setelahnya masyarakat akan lupa atau lalai kembali dalam menerapkan protokol kesehatan.

Negara yang patut dicontoh adalah Swedia, di mana masyarakatnya sudah berdisiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti jaga jarak dan tidak berkerumun. Intinya adalah bagaimana cara dari pemerintah dalam mengedukasi masyarakat akan kesehatan diri dan lingkungannya.

Semua jajaran dari berbagai elemen bekerja sama, bahwa tanpa menerapkan disiplin dalam protokol kesehatan maka kegiatan atau aktivitas dari berbagai bidang pun akan terganggu," tutur Erik. (okky adiana)