Sikap Kami: Nyinyirlah ke Corona

Sikap Kami: Nyinyirlah ke Corona

SEORANG politisi, pegiat di Twitter juga, mempertanyakan judul sebuah berita. Beritanya merujuk pada kondisi di DKI Jakarta. Intinya, kira-kira, tingkat kematian turun, tapi angka kematian naik.

Ada dua kemungkinan kenapa pertanyaan yang nadanya melecehkan itu muncul. Pertama, sang politisi tak tahu apa beda tingkat kematian dan angka kematian. Kedua –dan ini sudah pasti—karena bermain politik dengan kaca mata kuda.

Betul kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) tadi malam. Ada tiga cara pandang orang terhadap corona, salah satunya politik. Inilah cara pandang yang salah sesalah-salahnya.

Dari kacamata politik, apapun yang dilakukan orang yang dijunjung, akan selalu dibenarkan. Salah pun dicarikan pembenarannya. Kalau lawan politik? Sebaik-baik apapun kebijakannya, akan selalu salah. Termasuk cuitan soal tingkat kematian dan angka kematian itu. Sebuah cuitan yang bodoh.

Kita melihat, salah satu kendala berat dalam penanganan pandemi Covid-19 ini adalah persoalan politik itu. Kita tiba-tiba menjadi orang yang bodoh. Menghadapi pandemi yang demikian membahayakan itu –atau setidaknya sangat merisaukan—kita masih terbelah. Ada yang tak hendak bersatu. Padahal, ngakunya aku NKRI, aku Pancasila (mestinya kan Pancasilais ya).

Ironisnya, itu tak hanya terjadi di level bawah dengan tingkat dengungan yang memekakkan telinga. Bahkan elit-elit yang menjadi bagian pemimpin negeri pun melakukan hal yang serupa. Pernyataan saling menyudutkan antara elit A dan elit B menjadi santapan sehari-hari kita.

Lalu, bagaimana kita harus berperang melawan corona? Dalam hal pembatasan sosial berskala besar (PSBB) saja kita berbeda. Tak apa berbeda, sepanjang itu berlandaskan penelitian dan pengetahuan. Harus disesuaikan juga dengan kondisi dan kemampuan lokal. Tapi, sekadar menyalahkan kebijakan seseorang pemimpin hanya karena tak suka terhadapnya, adalah sama bodohnya dengan cuitan sang politisi tadi.

Tidaklah mungkin jika ketika perang melawan corona, yang terjadi justru kita nyinyir terhadap pengambil kesimpulan. Bukankah seharusnya kita sama-sama nyinyir terhadap virus itu, bukannya terhadap siapapun yang berjuang melawan corona, apapun metoda yang dia lakukan.

Maka, kepada pendengung yang bikin gaduh itu, kita sampaikan saran –betapapun kita sadar saran ini hanya seperti butiran pasir di tengah padang—untuk berhenti saling menyalahkan. Jika tidak bisa bersatu –karena Pancasilais itu hanya bisa diklaim-- tutup mulut sajalah. Biarkanlah orang yang betul-betul berjuang melawan Covid-19 berusaha. Tak perlu direcoki. (*)