Epidemiolog Dukung Penerapan PSBM di Kota Bogor

Epidemiolog Dukung Penerapan PSBM di Kota Bogor
Foto: Rizki Mauludi

INILAH, Bogor - Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia Masdalina Pane menanggapi positif langkah Pemkot Bogor menerapkan pembatasan sosial berskala mikro (PSBM) untuk menunjang pembatasan sosial berskala besar (PSBB) DKI Jakarta. Diketahui, pemberlakuan PSBM berakhir pada 29 September 2020 atau terhitung selama dua pekan.

"Berdasarkan ilmu epidemiologi, inti utama dari pengendalian pandemi itu yakni containment (pengurungan) yang tepat melalui tindakan isolasi dan karantina dari unit terkecil," ungkap Masdalina dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9/2020).

Masdalina melanjutkan, istilah isolasi digunakan jika pasien terkonfirmasi positif walaupun pasien tanpa gejala. Sementara istilah karantina digunakan untuk mereka yang close contact (kontak erat). Meski begitu teknik keduanya sama, yakni melakukan pemisahan pasien terkonfirmasi ataupun kontak erat dari populasi umum selama 14 hari untuk yang tanpa gejala, sedangkan pasien dengan gejala selama 10 hari ditambah tiga hari bebas gejala. 

"Kontak erat itu orang yang kontak dengan pasien terkonfirmasi positif dalam jarak kurang dari satu meter selama 15 menit. Kontak erat tidak perlu swab tapi harus langsung karantina," tambahnya.

Ia juga mengemukakan, tidak perlu dilakukan tes swab bagi kontak erat, karena di banyak kasus menunjukkan mereka yang awalnya dikategorikan kontak erat tidak menunjukkan gejala dan saat di swab pun hasilnya negatif. 

"Hal ini membuat kontak erat merasa tidak sakit, dan merasa bebas karantina dan ini pula yang menyebabkan pengendalian Pandemi tidak berhasil akibat ketidakdisiplinan melakukan containment pada orang-orang kontak erat," tuturnya.

Masdalina menerangkan, kalau daya tahan tubuhnya sangat lemah dua hari sudah ada gejala, tapi yang daya tahan tubuhnya kuat 14 hari tidak ada gejala. Ini yang berbahaya. Jadi, pihaknya membuat keputusan kontak erat tanpa gejala harus langsung di karantina dan terus dipantau selama 14 hari.

"Nah, kalau muncul gejala segera tes swab, jika hasilnya positif maka langsung diisolasi, kalau hasilnya negatif tetap melanjutkan karantina 14 hari," terangnya.

Masdalina juga menegaskan, terkait PSBM yang diterapkan di Kota Bogor ataupun PSBB yang kembali diterapkan di DKI Jakarta itu merupakan containment. Containment efektifnya dilakukan di unit terkecil, yakni di rumah (karantina) dengan melibatkan peran serta masyarakat, yaitu dimulai dari tingkat RT mengawasi orang kontak erat agar tidak keluar rumah termasuk pemerintah memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Jadi bukan mengurung satu kota termasuk orang sehat dikurung, sementara yang sakit juga tidak dikasih apa-apa. Model Pengendaliannya dari unit terkecil dari rumah dan harus disiplin," pungkasnya. (Rizki Mauludi)