Sikap Kami: Kasihan Pertamina

Sikap Kami: Kasihan Pertamina

BETAPA banyak anugerah-anugerah (awarding) yang dilakukan untuk BUMN. Tak sedikit lembaga yang menggelarnya. Macam-macam pula formatnya. Ada Anugerah BUMN, ada BUMN Award, atau BUMN penyumbang dividen terbesar.

Tahun ini, sulit menebak siapa yang bakal menang di tengah pandemi. Tapi, jika ada anugerah untuk BUMN paling berisik, maka pemenangnya sudah pasti: Pertamina!

Sejak berganti kepengurusan, Pertamina menjadi BUMN yang paling banyak menyita perhatian. Bukan karena performanya. Tapi, karena keberisikannya. Juga karena kebijakannya yang dirasakan aneh buat masyarakat.

Misalnya, ketika harga minyak dunia turun, Pertamina bergeming untuk menurunkan harga sepeser pun. Kata orang bijak, apapun kekeliruan yang terjadi, selalu akan muncul seribu satu alasan pembenaran.

Ironisnya, di tengah harga minyak yang tetap bertahan meski di dunia semua pada turun, Pertamina merugi. Tak kira-kira, sampai Rp11 triliun. Belakangan angka itu bisa dikurangi dari keuntungan Juli.

Terakhir, adalah pernyataan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama, yang mengumbar “borok” Pertamina melalui kanal media sosial. Katanya, banyak yang keliru dan salah. Termasuk juga soal gaji direksi anak perusahaan Pertamina yang tinggi-tinggi. Pernyataannya pun kemudian menyenggol-nyenggol Kementerian BUMN.

Buat kita, pernyataan-pernyataan Ahok ini aneh. Pertama, dalam fungsi pengawasan, bukankah hal ini harusnya menjadi ruang pembicaraan di internal Pertamina? Sebagai komisaris utama, dia punya wewenang mengawasi Pertamina, termasuk langkah direksi dan menyelesaikannya. Alih-alih menyelesaikan, dia malah mengumbar ke publik.

Dia pun menyinggung-nyinggung soal “orang titipan” melalui Kementerian BUMN. Benar apa yang dia katakan. Pertanyaannya, bukankah praktik itu terjadi selama ini? Itu pulalah yang dikritik publik ketika Kementerian BUMN merombak jajaran direksi-komisaris BUMN, terlalu banyak orang-orang titipan yang tak sesuai kompetensinya. Apakah semua komisaris Pertamina juga terpilih karena kompetensinya? Publik sangat meragukan.

Jadi, wajar saja jika publik kemudian menilai, kontroversi-kontroversi dari Ahok adalah juga karena belum berhasilnya dia “menjalankan tugas”di Pertamina. Bukankah ketika pertama kali ditunjuk, salah satu tugas Ahok “menghabisi” mafia di Pertamina yang ternyata belum habis-habis juga setelah enam tahun.

Kasihan Pertamina. BUMN yang sejak dulu anteng-anteng, kecuali ketika terjadi kenaikan harga BBM, kini menjadi perusahaan pelat merah paling berisik di negeri ini. Jelas, itu kontraproduktif untuk BUMN sebesar Pertamina. (*)