Emak-emak Penggunting Bendera Tersangka, Terancam 5 Tahun Penjara

Emak-emak Penggunting Bendera Tersangka, Terancam 5 Tahun Penjara

INILAH, Bandung - Tiga emak-emak penggunting bendera Indonesia di Sumedang resmi ditetapkan menjadi tersangka. Mereka terancam hukuman 5 tahun penjara.

Kasatreskrim Polres Sumedang AKP Yanto Slamet, mengatakan, ketiganya telah diperiksa di Polres Sumedang. Kemudian, statusnya sudah dinaikan menjadi tersangka.

"Udah, kami tetapkan tersangka dan kami lakukan penahanan di Polres Sumedang," ucap Yanto saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (17/9/2020).

Ketiga tersangka pun memiliki peran masing-masing dalam video berdurasi 29 detik yang viral di media sosial. Tersangka P berperan sebagai penggunting bendera, DY yang melakukan perekaman video, dan A yang membantu memegangi bendera.

Berdasarkan pengakuan para tersangka, Yanto menjelaskan, para emak-emak itu diketahui tidak mengunggah video tersebut ke aplikasi tiktok. Namun, mereka mengakui telah mengupload video pengguntingan bendera tersebut ke status Whatsapp.

"Sebenarnya, mereka tidak mengunggah di Tiktok, ibu ini hanya mengunggah di status WA-nya kalau menurut keterangan dari ibunya ketidaksengajaan dia mengunggah di status. Terus ada yang mengunggah lagi di tiktok baru kita tahu apa dan kejadiannya di mana terus siapa pelakunya, dari situlah awalnya," papar Yanto.

Lebih lanjut, Yanto menegaskan, pihaknya tengah memeriksa seseorang berinisal I yang mengunggah video tersebut ke aplikasi tiktok sehingga menyebabkan kegaduhan di masyarakat.

"Ditelusuri sudah kita jadikan saksi dan nanti kemudian akan koordinasi dengan ahli ITE, masuk unsur ITE atau tidak. Inisialnya I," Kata Yanto.

Saat disinggung motif melakukan pengguntingan bendera merah putih. Yanto menambahkan, motif sementara bertujuan untuk menghilangkan kebiasaan anaknya tersangka P yang selalu memainkan bendera merah putih.

"Jadi untuk sementara mungkin karena anaknya tapi kalau untuk motif yang lainnya masih kami dalami. Kenapa harus menggunting bendera itu kami masih dalami," ujarnya.

Senada dengan Yanto, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Erdi A. Chaniago menuturkan, maksud pengguntingan bendera merah-putih dilakukan agar anak dari wanita berinisial P yang disabilitas menghilangkan kebiasaan memegangi bendera.

Dengan begitu, tak ada motif membenci bendera dari ibu-ibu yang memotong bendera. Namun, yang jadi permasalahan dari kasus tersebut ialah konten video pengguntingan bendera yang diunggah kemudian viral.

"Tapi yang menjadi permasalahan adalah ternyata ada yang memvideokan dan memviralkan, nah ini yang menjadi masalah," ucap Erdi saat dikonfirmasi.

Untuk diketahui, Polisi menjerat ketiga tersangka dengan pasal 66 juncto 24 UU 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan Logo Kebangsaan ancaman pidananya kurungan 5 tahun dan denda Rp 500 juta. (Ridwan Abdul Malik)