Para Korban Penipuan Bos EO Minta Polisi Usut Keberadaan Istri Pelaku

Para Korban Penipuan Bos EO Minta Polisi Usut Keberadaan Istri Pelaku

INILAH, Bandung- Para korban penipuan bos Event Organizer (EO) di Bandung yang juga terpidana dalam kasus yang sama Martin Budi Waluyo (MBW) meminta istri pelaku LL ditangkap. Sebab hingga kini dia menghilang tanpa jejak. 

Salah seorang korban Edwin mengaku dugaan tindak pidana penipuan dan penggelangan serta Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dilakukan oleh pasangan suami istri MBW dan LL. MBW sudah divonis 1,5 tahun, tapi istrinya LL hingga kini tidak tahu keberadaannya.

"Saya terakhir ketemua dia (LL) di Polda Jabar saat melaporkan TPPU awal tahun ini. Sekarang dia menghilang tanpa jejak," katanya, Minggu (20/9/2020).

Dia berharap kepolisian segera menangkap LL. Karena para korban yakin jika sang istri lah otak dibalik penipuan tersebut. Sebab, dia yang berperan sebagai marketing dan lebih tahu kemana uang korban yang mencapai Rp 14 miliar tersebut.

"Kami yakin uangnya masih ada. Dan kamo yakin istrinya yang lebih tahu dimana uang itu disimpan," ujarnya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus itu dilaporkan sejak akhir tahun 2019 oleh sejumlah korban ke Polda Jawa Barat. Korban melaporkan MBW dengan dugaan TPPU Pasal 3 dan 4 Undang-Undang RI nomor 4 tahun 2010 tentang TPPU. Selain TPPU, bos EO itupun dilaporkan atas dugaan penipuan dan penggelapan.

Edwin menuturkan dugaan penipuan tersebut bermula saat pelaku menawarkan untuk kerja sama menyimpan uang di bisnis EO-nya. Edwin pun berminat lantaran melihat kemajuan bisnis EO tersebut.

Edwin lantas menyimpan uang kepada MBW sebesar Rp 660 juta. Uang investasi yang disimpan itu, dijanjikan akan mendapat keuntungan 2,5 persen dari nilai yang diinvestasikan.

Namun, lama kelamaan uang Edwin tak kunjung dikembalikan. Bahkan Edwin mengaku kaget saat pelaku ternyata berurusan juga kasus penipuan hingga akhirnya MBW dipenjara dengan vonis 1,5 tahun penjara.

"Saya juga sudah pernah menagih ke dia. Dia menjanjikan akan menjual rumahnya dulu, tapi ternyata rumahnya bermasalah," katanya.

Koordinator para korban Veronica mengaku sengaja memasukan unsur TPPU dalam pelaporan ke Polda Jabar. Sebab, para korban berkeyakinan uang mereka telah dipindahkan dalam bentuk aset.

"Kami harap kasus ini segera dituntaskan. Kami tidak ingin ada korban lain. Kami juga yakin jikanuang kami para korban telah dipindahtangankan atau dialihkan," ujarnya.