Bencana Alam Kok Didominasi di Wilayah Hulu Kabupaten Bogor?

Bencana Alam Kok Didominasi di Wilayah Hulu Kabupaten Bogor?
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Bogor - Sebanyak 39 kampung di 31 desa dan 12 kecamatan terdampak bencana alam. Mulai dari angin kencang, banjir bandang maupun tanah longsor. Untungnya dari peristiwa naas tadi malam tidak menimbulkan korban jiwa.

Namun, titik bencana alam banjir bandang ini ada peralihan dari awalnya terjadi di wilayah hilir, beberapa tahun ini terjadi di wilayah hulu.  Dari 12 kecamatan yang terdampak bencana alam yaitu Cisarua, Megamendung, Ciawi, Caringin, Cijeruk, Cigombong, Sukamakmur, Cariu, Jonggol, Pamijahan, Jasinga dan Tamansari, 9 kecamatan di antaranya merupakan wilayah hulu.

"Hujan deras yang mengguyur Bumi Tegar Beriman dari sore hingga malam kemarin membuat 39 kampung di 31 deda dan 12 kecamatan mengalami bencana alam angin kencang,banjur bandang dan tanah longsor, korban jiwa tidak ada sementara korban materil masih dalam perhitungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial atau dinas terkait lainnya," ucap Bupati Bogor Ade Yasin kepada wartawan, Selasa, (22/9/2020).

Politisi PPP ini menerangkan mengenai penyebab bencana alam, dirinya mendapatkan informasi bahwa hal itu terjadi karena curah hujan yang terlalu deras.

"Saya dapat informasi penyebabnya karena curah hujan yang terlalu deras, namun mengenai titik bencana yang berada di daerah hulu seperti Pamijahan, Cisarua, Megamendung, Sukamakmur dan lainnya itu harus dilihat titik lokasinya seperti apa hingga apakah benar ada faktor lain yang juga menjadi salah satu penyebab bencana alam seperti tanah longsor maupun banjir bandang hingga kita akan perketat (pembangunan dan alih fungsi lahan di daerah hulu)," terangnya.

Diwawancarai terpisah, Komandan Koramil Pamijajahan Kapten Slamet Royadi mengatakan bahwa bencana banjir bandang di Kampung Cipatat dan Muara I, Desa Cibunian, Pamijahan Senin sore hingga malam baru pertama kali terjadi di Gunung Gagak.

"Laporan warga memang banjir bandang yang sempat membanjiri rumah warga hingga ketinggian lebih dari 60 Cm tersebut baru terjadi, kami akan mengecek (cari penyebab lainnya) selain karena curah hujan yang deras, karena air yang biasa mengalir ke Sungai Cianten kok beralih ke lokasi lain," kata Kapten Slamet.

Sementara itu, dalam rilis Stasiun Klimatologi Bogor, Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan hujan deras terjadi karena pola sebaran angin 3000 ft terdapat TC dolphin (996 hpa) dan tekana rendah hingga membentuk pola sirkulasi siklonik hingga mendukung suplai awan-awan hujan.

"Berdasarkan data suhu permukaan dari pagi hingga siang hari terjadi karena pemanasan yang cukup kuat hingga mendukung proses penumbuhan awan hujan serta didukung oleh faktor lokal yaitu kelembaban udara yang basah hingga menimbulkan peningkatan pertumbuhan awan hujan konvektif dengan jenis cumulus padat dan cumulonimbus yang menyubabkan hujan  dengan intensitas lebat disertai potensi kitlat, petir dan angin kencang hingga ekstrim dari siang hingga malam hari hingga memicu terjadinya bencana alam seperti banjir bandang," tukas FOD Staklim Bogor Retno Kartika Ningrum. (Reza Zurifwan)