Banjir Bandang Terjang Sukabumi, DPRD Jabar: Kita Tidak Pernah Belajar Antisipasi

Banjir Bandang Terjang Sukabumi, DPRD Jabar: Kita Tidak Pernah Belajar Antisipasi
net

INILAH, Bandung - Banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Sukabumi, Senin (21/9/2020) kemarin. Berdasarkan data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), beberapa kampung di empat desa terdampak.

Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat Daddy Rohanady mengatakan, musibah banjir yang dialami ketika musim hujan tiba sebenarnya bukan tidak bisa diantisipasi atau minimal dikurangi. 
Terlebih wilayah yang terdampak masih disitu-situ saja, pada tiap tahunnya. Menurutnya, minimnya perhatian pemerintah dalam mengantisipasi menjadi faktor musibah banjir selalu terulang.

Seharusnya, kata dia, dari dulu pemerintah sudah memiliki langkah untuk mengantisipasi agar banjir tidak lagi terulang sehingga pada akhirnya menyusahkan masyarakat. Padahal banyak langkah yang bisa diambil lanjut Daddy, dalam mengantisipasi banjir. Salah satunya dengan fokus membangun dan merevitalisasi drainase yang baik.

“Antisipasi yang menurut saya enggak ada. Kita ini seperti tidak pernah belajar antisipasi. Padahal yang terdampak banjir di situ-situ saja. Tetapi tidak ada langkah untuk mengantisipasinya sejak awal. Kita sudah tahu bahwa ini daerah banjir, harusnya sudah bisa diantisipasi sejak awal. Misal dengan perbaikan saluran irigasinya, drainasenya juga diperbaiki. Lalu bisa situ, bendungan, waduk, atau danau atau apapun yan bisa menjadi wadah penampung air agar tidak meluap kemana-mana. Kemudian jalur airnya juga seperti sungai juga diperbaiki. Supaya ketika hujan besar datang, kita enggak panik. Kalaupun akhirnya banjir juga, tapi tidak parah. Nah, kita masih kurang antisipasi terkait kondisi yang ada saat ini,” kata Daddy kepada INILAH, Selasa (22/9/2020).

Belum adanya langkah konkret dalam mengatasi hal ini, kata dia terjadi lantaran fokus pemerintah daerah terhadap situ, bendungan, embung, waduk dan lainnya hanya pada pemanfaatan sektor pariwisata. Bukan untuk mengantisipasi, baik ketika menghadapi musim banjir maupun kemarau.

Fungsi utama dari sarana penampungan air tersebut yang terabaikan kata dia, pada akhirnya berdampak dengan timbulnya bencana yang selalu terulang tiap tahun. Daddy berharap ada evaluasi terkait masalah ini, guna meminimalisir bencana di masa mendatang agar tidak terjadi lagi. Sehingga tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban.

“Terus terang, kita itu ketika musim kemarau ya kekeringan. Musim hujan ya banjir. Ini karena kita tidak bisa mengantisipasinya. Harusnya ketika masuk musim kemarau ataupun hujan, kita sudah bisa persiapkan. Contoh dengan adanya bendungan, embung, situ, atau waduk yang bisa menjadi tempat untuk daya tampung air dan dimanfaatkan ketika musim kemarau seperti sekarang. Tetapi sayangnya, tempat-tempat itu direvitalisasi atau diperbaiki, hanya untuk dijadikan tempat wisata. Bukan digarap sesuai fungsinya. Harusnya pemerintah itu tidak berpikir hanya artifisialnya saja, untuk kesenangan semata. Tetapi juga lebih ke fungsi. Jadi kalau ketika musim hujan, kita bisa tampung untuk stok musim kemarau. Jujur saya sangat menyayangkan, ketika ada rencana gubernur untuk revitalisasi waduk, situ ataupun embung. Tujuannya hanya untuk artifisial. Kami ini sudah sering sekali mengingatkan, tapi tidak direspon dengan baik,” ucapnya. (Yuliantono)