Purwakarta Gulirkan Program Restocking dan Tetenong

Purwakarta Gulirkan Program Restocking dan Tetenong
istimewa

INILAH, Purwakarta – Tingkat konsumsi ikan masyarakat di Kabupaten Purwakarta cenderung masih rendah. Merujuk pada data Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, tingkat konsumsinya cenderung masih berada di angka 31 kilogram per kapita per tahunnya atau belum sesuai pada standar nasional yakni di angka 56 kilogram per kapita per tahun.

 

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskannak) Kabupaten Purwakarta, Buddy Supriyadi, menyadari hal itu. Sejauh ini, jajarannya tak berdiam diri dan terus melakukan berbagai upaya untuk menggenjot minat warga supaya tingkat konsumi ikan di masyarakat bisa meningkat.

 

“Banyak faktor sih. Bisa jadi karena banyak yang lebih memilih unsur hewani lain untuk dikonsumsi. Atau bisa jadi karena daya beli masyarakatnya yang kurang,” ujar Buddy saat ditemui INILAH di kantornya, Rabu (23/9/2020).

 

Buddy menjelaskan, jika berbicara sumber produksi ikan di wilayannya cukup banyak. Baik itu dengan pola budidaya perorangan maupun di keramba jaring apung (KJA), sebut saja di antaranya yang ada di Jatiluhur dan Cirata. Tak hanya itu, produksi ikannya pun kerap meningkat setiap tahunnya.

 

Adapun untuk produksi ikan budidaya, hingga akhir 2019 lalu itu mencapai 1.757 ton atau naik 51,30 persen di banding tahun sebelumnya. Sedangkan, untuk produksi ikan di KJA, jumlahnya mencapai 91.529 ton di 2019 kemarin, atau 8,67 persen dari tahun sebelumnya.

 

Pihaknya pun merasa heran, meski produksi ikan terutama ikan air tawarnya melimpat, tapi ternyata belum mampu mendongkrak tingkat konsumsinya. Dia berpendapat, sepwrtinya minat konsumsi masyarakat terhadap ikan masih terbilang rendah dibanding pada ayam, daging sapi atau telur.

 

“Produksi ikan di kita sebenarnya cukup melimpah. Di sisi lain, memang tingkat konsumsi di masyarakatnya masih cukup rendah. Ya itu tadi, salah satunya bisa jadi karena banyak yang lebih memilih unsur hewani lain untuk dikonsumsi,” imbuh dia.

 

Kedepan, pihaknya memastikan tingkat konsumsi ikan masyarakat di wilayahnya bisa berangsur naik. Apalagi, saat ini pihaknya telah menggulirkan beberapa program. Di antaranya, progran restrocking dan tetenong. Untuk Restocking, pihaknya memanfaatkan sumber air bekas galian C atau sungai.

 

“Jadi kita tebar benih di sumber air itu. Nanti setelah tiga atau empat bulan, masyarakat bisa menikmatinya. Kemudian, ada juga program tetenong yakni mendorong budidaya perorangan. Jadi, dalam program ini masyarakat dibantu benih ikannya untuk ditebar di sumber air sekitar rumah,” jelas dia.

 

Selain dua cara itu, tambah dia, pihaknya juga turut menggandeng masyarakat untuk mengolah ikan menjadi makanan yang menarik. Misalnya, ikan tersebut diolah jadi makanan yang berbeda. Seperti, abon, bakso, nugget atau sosis.

 

“Dengan melakukan pengolahan beda, mungkin bisa sedikit merangsang minat masyarakat supaya mau mengonsumi ikan,” pungkasnya. (Asep Mulyana)