Mahasiswa UPI Kembangkan Aplikasi Civics Rexa

Mahasiswa UPI Kembangkan Aplikasi Civics Rexa
istimewa

 

INILAH, Bandung - Era digital telah melahirkan apa yang  mereka sebut sebagai ‘gadget’ dan ‘internet’. Tak dapat dipungkiri, hampir semua kalangan usia termasuk remaja menggunakan gadget dan internet untuk memudahkan mereka dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi tanpa dibatasi jarak, waktu, dan usia.

Namun bagai dua sisi mata uang, terdapat dampak negatif di balik kecanggihan dan kemudahan itu, salah satunya adalah perantara bagi seseorang untuk melakukan tindak kejahatan seperti pelecehan seksual baik secara verbal maupun non verbal.

Remaja memiliki tingkat presentase tertinggi dalam kasus pelecehan seksual karena psikologis dan mental mereka yang masih lemah dan belum stabil.

Berdasarkan kekhawatiran semakin tingginya tingkat pelecehan seksual tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penelitian Pendidikan Kewarganegaraan dan Sosiologi FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Faujiah, Andreian Yusup dan Gabrielia mengembangkan suatu aplikasi yang bernama Civics Rexa (Oppressor Vexations) sebagai solusi pelecehan seksual pada siswa di era digital dan berhasil lolos pendanaan Kemendikbud.

Dosen Pembimbing, Leni Anggraeni mengatakan meski di tengah pandemi, hal ini bukan menjadi halangan untuk terus menciptakan sesuatu yang baru. Bahkan, kata Leni,
Tim PKM yang diketuai oleh Faujiah berusaha semaksimal mungkin dengan penuh kegigihan untuk menghasilkan output terbaik dengan slogan tersendiri “berusaha keras, berpikir cerdas”. Tentunya segala persiapan dan kegiatan dilakukan secara daring dengan tetap mengutamakan prokol kesehatan.

"Civics Rexa merupakan sebuah aplikasi literasi digital berbasis android yang memudahkan pengaksesan bagi siswa dimanapun dan kapanpun. Untuk meminimalisasi pelecehan seksual di kalangan masyarakat khusunya di dunia pendidikan yaitu persekolahan, Tim Rexa mengembangkan media pembelajaran literasi digital yang memuat konten khusus yang epik guna menanggulangi pelecehan seksual sebagai bentuk pengembangan tanggung jawab moral dan penanaman pendidikan karakter di kalangan siswa, yang diarahkan tidak hanya pada korban tetapi juga pelaku pelecehan seksual," papar Leni, Rabu (23/9/2020).

Diharapkan dalam penggunaannya akan meningkatkan efektivitas dan efisiensinya sebagai media dalam menekan angka tindakan pelecehan seksual pada siswa di era digital. (Okky Adiana)