Peneliti ITB: Waspadai Ancaman Gempa Besar dan Tsunami di Selatan Pulau Jawa

Peneliti ITB: Waspadai Ancaman Gempa Besar dan Tsunami di Selatan Pulau Jawa
net

INILAH, Bandung - Tim Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan ada skenario gempa besar di sepanjang segmen megathrust di selatan Pulau Jawa yang akan menimbulkan tsunami.

Peneliti ITB Sri Widiyantoro mengatakan, skenario terburuk yaitu jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan, menunjukkan tinggi tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 meter di selatan Jawa Timur, dengan tinggi maksimum rata-rata 4,5 m di sepanjang pantai selatan Jawa.

"Hasil ini mendukung seruan untuk penguatan Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System) di Indonesia (InaTEWS), terutama di Jawa yang berpenduduk terpadat di Indonesia," ujar Sri, Jumat (25/9/2020).

Menurut Sri, seismic gap di sepanjang Jawa dengan total populasi lebih dari 150 juta orang masih kurang dipelajari secara intensif. Daerah-daerah di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa seperti Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Pacitan, dan Banyuwangi rentan terhadap ancaman gempa besar dan tsunami destruktif.

Sebagaimana terjadi pada 1994 dan 2006 yaitu gempa yang menimbulkan tsunami (gempa tsunamigenik) dengan magnitudo momen 8 terjadi di selatan Banyuwangi (Mw 7,8) dan Pangandaran (Mw 7,7). Tsunami yang ditimbulkan oleh kedua gempa ini menewaskan hampir 1.000 orang di kedua tempat tersebut.

"Tidak adanya gempa bumi besar (Mw > 8) dalam beberapa ratus terakhir tahun ini mengindikasikan bahwa gempa tsunamigenik yang dahsyat di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa merupakan ancaman yang harus diwaspadai," ujar Sri.

Oleh sebab itu lanjut Sri, penguatan InaTEWS perlu menjadi prioritas utama karena kebanyakan penduduk yang tinggal di daerah berisiko tinggi tsunami hanya memiliki sedikit waktu untuk melarikan diri jika terjadi tsunami.

"Dalam studi ini, kami menggunakan data gempa dari katalog BMKG dan katalog International Seismological Center (ISC) dari April 2009 sampai dengan November 2018 untuk mempelajari potensi gempa megathrust dan tsunami di selatan Jawa. Selain analisis data seismik (gempa), kami juga memanfaatkan data GPS dari 37 stasiun yang dipasang di Jawa Tengah dan Jawa Timur selama 6 tahun untuk mempelajari sumber gempa di masa mendatang. Hasil pengolahan data dengan teknik inversi data GPS ini kemudian digunakan sebagai model sumber gempa besar untuk simulasi numerik tinggi tsunami di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa," paparnya. (Okky Adiana)