Komunitas Taksi Online: Gojek dan Mitra Harus Saling Memahami Situasi Pandemi

Komunitas Taksi Online: Gojek dan Mitra Harus Saling Memahami Situasi Pandemi

INIILAH, Bandung - Situasi pandemi Covid-19 berimbas pada perekonomian berbagai sektor, termasuk jasa transportasi ojek online. Untuk itu, pihak perusahaan dan mitra harus saling menguatkan. 

Hal tersebut disampaikan Ketua GPRS Komunitas Taksi Online Bandung Richard Saeful. Tak terkecuali antara Gojek dan Mitra harus saling menguatkan agar tetap bertahan melalui berbagai tekanan akibat pandemi.

"Hubungan mitra driver dengan Gojek merupakan hubungan berkesinambungan. Gojek membutuhkan mitra seperti kami dan mitra pun membutuhkan aplikator seperti Gojek. Dengan kondisi pandemi yang dihadapi dunia saat ini, kita harus sama-sama memahami. Dulu mungkin Gojek masih bisa memberikan kita insentif atau bonus setiap harinya. Agar sama-sama bisa bertahan, insentif itu sekarang diganti dengan Program Jago untuk memberi jaminan pendapatan untuk driver yang orderannya turun drastis saat pandemi," ujar Richard, Minggu (27/9/2020). 

Menurut dia, anggapan yang menyebut sistem Gojek tidak adil dan banyak merugikan mitranya tersebut tidak benar. Justru sistem yang diberlakukan Gojek saat ini sudah cukup transparan dan adil

"Kebijakan Gojek kan dinamis, bisa selalu berubah seusuai kondisi. Kalau dibilang merugikan mitra ya tidak juga," katanya. 

Menurut Richard, kebijakan yang diberlakukan Gojek cukup membantu para mitra untuk tetap bertahan. Sehingga rekan sesama mitra diharapkan  memahami kebijakan Gojek saat ini.

"Kalau dulu Gojek kasih kita reward, sekarang giliran kita yang kasih kontribusi untuk Gojek. Supaya kita bisa sama-sama survive. Kalau Gojek udahan di Indonesia, mau ke mana lagi kita? Karena kita hanya mengandalkan pendapatan dari Gojek," kata Richard yang sudah 4 tahun menjadi mitra GoJek.

Richard mengatakan, meski dihadapkan pada kondisi pendapatan yang turun akibat pandemi, para mitra driver yang tergabung dalam komunitas GPRS memilih tetap bertahan dan berharap sutuasi segera kembali normal.

"Saat ini rekan-rekan di GPRS sudah tidak begitu menghiraukan masalah insentif, yang penting masih bisa menutupi biaya operasional harian, seperti bensin, setoran mobil, dan untuk dibawa pulang ke rumah. Kami berharap kondisi ini hanya sementara. Kalau kondisi sudah normal, harapan kami Gojek bisa kembali memberikan reward untuk mitranya," tandasnya.

Terkait penetapan tarif, Richard meyakini Gojek memiliki pertimbangan, seperti menimbang tarif kompetitor. Ini memang dilematis. Kalau tarif dinaikkan konsumen bisa lari. Kalau terlalu rendah driver mengeluh. 

"Kebijakan tarif ini juga yang harus kita pahami. Saya sih yakin, kalau ditekuni, pendapatan dari GoCar masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi kalau cuma  sambilan apalagi iseng-iseng mungkin agak sulit," akunya 

Terkait upaya rekan-rekan sesama driver yang mengadukan pihak aplikator kepada DPRD dan pemerintah daerah, Richard menilai sah-sah saja. Namun pemerintah pun telah berupaya memberikan jaminan kesejahteraan kepada driver online melalui Permenhub 118/2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus.

"Pemerintah sudah membuat regulasi untuk menjamin kesejahteraan mitra driver online, terkait tarif, kuota, sudah detail diatur dalam Permenhub 118/2018. Ke depan pemilik taksi online harus mempunyai izin," tutupnya. (Rianto Nurdiansyah)