Akademisi: Terkait Ancaman Gempa dan Tsunami, Masyarakat Harus Ekstra Waspada 

Akademisi: Terkait Ancaman Gempa dan Tsunami, Masyarakat Harus Ekstra Waspada 
ilustrasi/net

INILAH, Bandung - Gempa dan tsunami menjadi salah satu bencana yang menakutkan. Baru-baru ini, peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan tinggi tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 m di selatan Jawa Timur, dengan tinggi maksimum rata-rata 4,5 m di sepanjang pantai selatan Jawa.

Tsunami menjadi bencana yang mengintai masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir selatan Jawa Barat. Peningkatan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat diperlukan untuk meminimalisasi risiko kehilangan nyawa dalam jumlah besar.

Dosen Fakultas Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Dicky Muslim mengatakan, masyarakat harus tatap waspada dan semua instrumen dengan kewaspadaan itu harus 24 jam. Instrumen itu bisa dari komunitas, media, akademisi dan dari pemerintah.

"Ada ciri-ciri yang bisa dipahami dengan mudah. Momentum ini harus dimanfaatkan, sehingga menjadi waspada. Karena di Jepang, waktu 2011 itu sebelum tsunami, saya ada di Jepang, setelah itu ada tsunami, mereka sudah memberi peringatan kepada ilmuwannya 10 tahun lalu," ucap Dicky, Senin (28/9/2020).

Menurut Dicky, ancaman tsunami setinggi 20 m tersebut merupakan skenario yang memungkinkan. Prediksi itu berdasarkan akumulasi regangan/energi yang dilepaskan saat gempa tektonik terjadi. Tentunya, skenario ini tetap harus dilakukan penelitian lanjutan.

Hikmahnya, kajian ini seharusnya menjadi upaya untuk meningkatkan kewaspadaan akan bahaya tsunami. Ini pula yang sudah dilakukan negara Jepang. Hasil riset dijadikan pedoman untuk melakukan mitigasi kebencanaan dengan baik.

“Jika sudah ada peringatan tsunami, masyarakat harus lari ke tempat yang lebih tinggi. Masyarakat sekitar harus lari sekencang-kencangnya. Kalau ada gempa kemudian ada peringatan tsunami dan laut surut, harus lari sekencang-kencangnya bagi masyarakat. Mau seorang jenderal, kopral, atau pimpinan daerah lari sekecang-kencangnya," paparnya.

Dia menambahkan, yang menjadi masalah terkadang pengetahuan gempa dan tsunami itu tidak banyak diingat sebagian orang. Padahal, kewaspadaan yang baik akan mengurangi dampak dari bencana tsunami.

"Ini yang dinamakan penyakit HIGP, hese inget, gancang poho (susah ingat, cepat lupa). Saya kira ini menjadi trademark kita. Harus diberi edukasi, jadi edukasi itu bukan sekadar pendidikan sekolah, jadi lebih luas. Yang di edukasi itu bukan anak-anak SD, SMP, tapi para pejabat di daerah," imbuh Dicky. (Okky Adiana)