Puskeswan Laladon Ingatkan Bahayanya Virus Rabies

Puskeswan Laladon Ingatkan Bahayanya Virus Rabies
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Bogor - Bertepatan dengan Hari Rabies Sedunia, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskeswan Laladon Didi Kurniadi mengingatkan masyarakat akan bahayanya penyakit atau virus rabies.

Sebab, manusia yang terpapar virus rabies bisa menyebabkan fatal hingga kematian dengan sebelumnya mengalami gejala panas tinggi, kejang-kejang, kerusakan saraf otak  dan lainnya.

"Kalau udah parah, manusia yang terpapar virus rabies bisa mengalami gejala panas tinggi, kejang-kejang, kerusakan saraf otak  dan lainnya hinga jika tidak diobati selama 1 hingga 14 hari bisa mengalami kematian," kata Dedi kepada wartawan, Senin, (28/9).

Ia menerangkan manusia yang diduga terpapar virus rabies  selanjutnya di bawa 
ke pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) untuk segera disuntik vaksin anti rabies agar nyawanya bisa terselamatkan.

"Oleh karena itu bagi manusia yang diduga terpapar virus rabies karena digigit anjing, kucing, kera, kelalawar dan musang bisa langsung segera dibawa ke Puskesmas untuk disuntik vaksin anti rabies. Bagi pemilik hewan peliharaan seperti diatas juga bisa membawa hewannya ke UPT Puskeswan untuk disuntik vaksin anti rabies dimana pada hari ini dan selagi persediaan masih ada maka tidak akan dikenakan biaya alias gratis,"  terangnya.

Sedangkan, dokter hewan yang bertugas di UPT Puskeswan Laladon Titik Herawati menuturkan virus rabies bisa menyebabkan hewan menjadi pemalu hingga agresif, lalu tanpa sebab mati dengan masa inkubasi 1-14 hari.

"Ciri-ciri hewan anjing, kucing, musang, kera, kelelawar yang terpapar virus rabies selain terus mengeluarkan air liur dari mulutnya untuk yan pemalu seperti takut air, takut cahaya lalu kalau yang agresif dia suka menggigit-gigit terutama menggigit manusia, oleh karena itu jika ada hewan diatas yang menggigit manusia harus ditangkap dan diamankan selama 14 hari dan jika selama masa itu ia mati maka kuat dugaan dia terpapar virus rabies," tutur Titik.

Ia melanjutkan kasus gigitan hewan seperti kera dan anjing masih terjadi di Bumi Tegar Beriman, namun dari kasus-kasus giguran hewan ke manusia itu tidak ditemukan adanya penyebaran virus rabies.

"Terakhir di Kecamatan Ciampea ada kasus gigitan kera ke masyarakat sekitar, tetapi setelah diobservasi atau dirawat baik masyarakat maupun hewan keranya tidak atau negatif terpapar virus rabies. Untuk diketahui di Kabupaten Bogor terakhir ditemukannya kasus virus rabies terjadi pada Tahun 1989, namun kita belum bebas dari virus mematikan tersebut karena masih ada kota dan kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang memiliki kasus penyebaran virus rabies seperti yang terjadi di Sukabumi dan Cianjur beberapa waktu lalu," lanjutnya. (Reza Zurifwan)