Setelah Perubahan APBD TA 2020, PAD Garut Turun 11,25% 

Setelah Perubahan APBD TA 2020, PAD Garut Turun 11,25% 
Foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Garut pada akhir Tahun Anggaran (TA) 2020 mengalami penurunan dari target semula Rp501,054 miliar menjadi Rp444,685 miliar, atau menurun sebesar Rp56,379 miliar (11,25%).

Hal itu dikemukakan Bupati Garut Rudy Gunawan saat menyampaikan Nota Pengantar Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Perubahan APBD Garut TA 2020 pada Rapat Paripurna DPRD Garut di gedung DPRD setempat, Senin (28/9/2020).

Penurunan PAD tersebut lebih besar perkiraan sebelumnya seperti disampaikan Bupati Rudy dalam Nota Pengantar Penyampaian Rancangan Kebijakan Umum Perubahan APBD TA  2020 serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Perubahan APBD TA 2020 pada 22 September 2020. Ketika itu Bupati Rudy menyebutkan, akibat pandemi Covid-19, PAD Garut pada TA 2020 diperkirakan menurun sebesar 9,66 persen dari Rp501 miliar menjadi Rp452 miliar.

Nota kesepakatan bersama antara Kepala Daerah dengan Pimpinan DPRD Garut terkait KUA-PPAS Perubahan APBD Garut TA 2020 sendiri ditandatangani berselang sehari kemudian.

Dalam nota pengantarnya terkait Raperda Perubahan APBD Garut TA 2020, Rudy mengatakan, penurunan PAD terjadi karena terjadi penurunan pada sejumlah sumber PAD, yakni penurunan target pajak daerah Rp62,068 miliar dari semula Rp167,308 miliar menjadi Rp105,239 miliar; dan penurunan target retribusi daerah Rp4,485 miliar dari semula Rp24,595 miliar menjadi Rp20,109 miliar. Sedangkan Lain-lain PAD yang sah mengalami kenaikan Rp10,174 miliar dari semula Rp303,463 miliar menjadi Rp313,638 miliar. Lain-lain PAD yang sah sendiri berasal dari pendapatan bunga deposito yang naik Rp3 miliar, BLUD Puskesmas naik Rp10,174 miliar, serta penurunan BLUD RSUD Rp3 miliar. 

Selain PAD, dana perimbangan juga mengalami penurunan dari semula ditargetkan Rp2,930 triliun menjadi Rp2,589 triliun, atau berkurang Rp341,499 miliar (11,65%). 

Hal itu terjadi karena berkurangnya dana bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak semula dianggarkan Rp310,148 miliar menjadi Rp205,922 miliar atau berkurang 33,60%; berkurangnya dana alokasi umum semula dianggarkan Rp1,876 triliun menjadi Rp1,697 triliun atau berkurang 9,55%; dan berkurangnya dana alokasi khusus semula dianggarkan Rp743,702 miliar menjadi Rp685,682 miliar atau berkurang 7,80%.

Kendati PAD mengalami penurunan, total Pendapatan secara keseluruhan pada Perubahan APBD Garut TA 2020 diasumsikan meningkat menjadi Rp4,570 triliun dari dianggarkan sebelumnya Rp4,520 triliun, atau bertambah Rp49,533 miliar (1,10%).

Peningkatan Pendapatan Perubahan APBD Garut TA 2020 tersebut terutama naiknya Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah dari semula ditargetkan Rp1,088 triliun naik menjadi Rp1,536 triliun atau bertambah Rp447,362 miliar (41,08%) yang bersumber dari bertambahnya pendapatan hibah Rp31,837 miliar dari semula dianggarkan Rp285,600 miliar menjadi Rp317,438 miliar; berkurangnya dana bagi hasil pajak dari provinsi Rp11,259 miliar dari semula dianggarkan Rp253,528 miliar jadi Rp242,269 miliar atau berkurang 4,44%; diterimanya bantuan keuangan dari Pemprov Jabar Rp412,011 miliar; bertambahnya dana transfer lainnya dari semula dianggarkan Rp549,743 miliar menjadi Rp564,516 miliar atau bertambah Rp14,772 miliar.

Sedangkan Belanja Daerah diperkirakan naik Rp291,504 miliar (6,35%) dari sebelum perubahan dianggarkan Rp4,593 triliun menjadi Rp4,884 triliun.

Rudy menambahkan, setelah perubahan itu berdasarkan Pendapatan Daerah, Belanja Daerah, dan Pembiayaan Daerah maka posisi Rancangan Perubahan APBD TA 2020 dalam kondisi berimbang. 

Sebelumnya, dia mengatakan, berdasarkan KUA-PPAS Perubahan APBD TA 2020, dari tiga komponen pembentuk APBD yaitu Pendapatan, Belanja, dan Pembiayaan, diasumsikan masih mengalami ketidakberimbangan atau defisit anggaran sebesar Rp18,894 miliar. (Zainulmukhtar)