Angka Kelahiran Anak Sapi di Kabupaten Bogor Terus Meningkat

Angka Kelahiran Anak Sapi di Kabupaten Bogor Terus Meningkat
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Bogor - Selama beberapa tahun terahir, Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakkan) Kabupaten Bogor berhasil meningkatkan angka kelahiran anak sapi. Itu dilakukan dengan upaya khusus sapi kerbau komoditas andalan negeri (Upsus Si Komandan) dengan penyuntikan inseminasi buatan.

Kabid Peternakan Disnakkan Kabupaten Bogor Romilah Nasution menuturkan, pada 2018 itu tercatat dari target inseminasi buatan 5.990 dosis telah terlaksana 7.006 dosis.

"Dari penyuntikan inseminasi buatan 7.006 dosis dan target kelahiran  anak sapi 3.354 ekor anak sapi, kita telah melebihi target  angka kelahiran yaitu 3.572 ekor anak sapi atau melebihi target 106,5 persen," tutur Romilah kepada wartawan, Selasa (29/9/2020).

Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menambahkan, pada 2019 jajarannya diberikan target penyuntikan 8.909 dosis inseminasi buatan namun hanya tercapai 83,4 persen atau 7.431 dosis.

"Walaupun target penyuntikan inseminasui buatan sapi tidak tercapai, namun target  angka kelahiran 3.818 ekor anak sapi malah melebih target yaitu 4.219 ekor anak sapi atau melebihi target sebesar 135 persen. Melebih target angka kelahiran di Tahun 2019 itu karena ditahun itu suntik, belum tentu langsung hami hingga angka kelahirannya mundur di tahun selanjutnya," tambahnya.

Romilah memaparkan, pada 2020 ini pihaknya ditargetkan 9.800 doses penyunyikan inseminasi buatan. Hingga akhir September ini baru tercapai 6.248 dosis atau 63 persen dari target yang ditentukan.

"Sama seperti sebelumnya, pada 2020 ini target angka kelahiran juga Insyaallah melebihi target dari seharusnya 3.430 ekor anak sapi, saat ini sudah mencapai 3.104 ekor anak sapi atau 90,5 pesen, kenapa kami optimis target angka kelahiran tercalai karena angka kehamilan induk sapi berada di angka 4.297 ekor," papar Romilah.

Ibu empat orang anak ini menjelaskan peningkatkan komoditas ternak besar hanya berhasil di jenis sapi perah dan potong, sementara untuk jenis kerbau tidak bisa karena kerbau itu kawinnya harus birahi tenang atau saat digembalakan oleh penggembala.

"Pengembangan sapi potong kita pusatkan di Kecamatan Jonggol, Cariu, Tanjungsari dan Sukamakmur, sementara pengembangan sapi perah ada di Kecamatan Cisarua, Pamijahan dan  sekitarnya. Dengan terus mebongkarnya komoditas ternak besar sapi maka bisa memasok kebutuhan Kabupaten Bogor akan daging segar," jelasnya.

Romilah melanjutkan, agar anak sapi tidak lekas dijual peternak maka jajarannya pun mengimbau agar menjual sapi tepat pada waktunya sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari maka para peternak diberikan pelatihan usaha mikro, kecil, dan memengah (UMKM).

"Kalau peternak sapi perah kita ajarkan memanfaatkan atau mengolah produksi susu menjadi yogurt, susu pasteurisasi, keju, atau produk olahan lainnya hingga mereka meningkat pendapatannya. Untuk peternak sapi potong mereka kami ajarkan bagaimana mengubah kotoran sapi menjadi pupuk atau mengolah daging sapinya menjadi olahan rendang hingga ada peningkatan nilai jual. Produk olahan susu dan daging sapi ini mereka jual di koperasi atau toko ritel lainnya," lanjut Romilah. (Reza Zurifwan)