Seperti Ini Respons Cepat Purwakarta Menghadapi Fenomena Kemarau Basah

Seperti Ini Respons Cepat Purwakarta Menghadapi Fenomena Kemarau Basah
Foto: Asep Mulyana

INILAH, Purwakarta - Cuaca di berbagai daerah saat ini masih tak menentu. Merujuk pada hitungan, seharusnya saat ini masih masuk musim kemarau. Namun, terkadang masih ada air hujan yang turun. Fenomena ini lebih dikenal dengan istilah kemarau basah.

Dengan kondisi tersebut, Pemkab Purwakarta saat ini telah pasang mata dan mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna menghadapi anomali cuaca ini. Terlebih, di kabupaten ini terdapat tiga bencana musiman yang paling di antisipasi. Yakni, tanah longsor, banjir, dan angin rebut (puting beliung).

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Becana (DPKPB) Kabupaten Purwakarta Wahyu Wibisono pun menyadari hal itu. Menurutnya, komunikasi harus dikuatkan sebagai langkah antisipasi guna meminimalisasi dampak yang timbul dari perubahan musim ini.

“Sebenarnya, saat ini masih musim kemarau. Tapi terkadang masih ada hujan deras. Jadi, anomali cuaca ini memang harus diantisipasi,” ujar Wibi kepada INILAH, Selasa (29/9/2020).

Sebagai bagian dari antisipasi, lanjut Wahyu, pihaknya mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk lebih tanggap. Kalau terjadi bencana di satu wilayah supaya segera laporkan ke pemkab.

“Dengan komunikasi satu arah ini, diharapkan dampak bencana alam bisa diminimalisasi,” kata dia.

Terkait tanah longsor, sambung dia, sampai saat ini pihaknya belum menerima laporan telah terjadi becana alam tersebut. Begitupun untuk banjir. Hanya saja, di pekan kemarin pihaknya mendapat laporan ada wilayah yang diterjang angin ribut.

“Pekan kemarin kami terina laporan, ada belasan rumah mengalami kerusakan dibagian atapnya saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang. Itu, di sekitar Kecamatan Darangdan,” jelas dia.

Terkait data rawan bencana alam, Wahyu menambahkan, di wilayahnya ada tiga bencana alam yang paling diantisipasi. Yakni, tanah longsor, puting beliung dan banjir. Untuk tanah longsor sendiri, kata dia, berpotensi di beberapa desa di 12 dari 17 kecamatan yang ada.

“Kebanyakan, wilayah rawan longsor ini berada di daerah perbukitan yang kontur tanahnya jenis lempung. Sehingga, saat diguyur hujan, tanah tersebut bisa menjadi medan luncur. Untuk wilayah rawan ini, semisal Kecamatan Pondoksalam, Bojong, Darangdan dan Wanayasa,” jelas dia.

Sedangkan, sambung dia, untuk bencana banjir sebenarnya nyaris tidak ada daerah yang rawan di wilayah kerjanya. Kalau pun ada, itu adalah banjir cileuncang yang diakibatkan adanya drainase yang tersumbat sampah.

“Kalau untuk daerah yang rawan puting beliung, hamper seluruh kecamatan itu berpotensi. Namun, yang paling kita awasi itu kecamatan kota dan Babakan Cikao,” tambah dia.

Sementara itu, terkait kerusakan belasan rumah akibat angin ribut di Kecamatan Darangdan, Pemkab Purwakarta saat itu juga langsung bergerak cepat. Melalui Bagian Kesra, pemerintah memberikan bantuan untuk perbaikan kerusakannya.

“Dari laporan yang kami terima, ada 13 rumah di lima desa yang mengalami kerusakan. Kebanyakan kerusakannya dibagian atap. Sesuai arahan bupati, kami telah menyalurkan bantuan untuk perbaikan. Untuk besarannya bervariasi, tergantung dari kerusakannya,” ujar Kabag Kesra Setda Purwakarta, AM Sundari, singkat. (Asep Mulyana)