Teh Nia: Pondok Pesantren Harus Adaptif dengan Teknologi Digital

Teh Nia: Pondok Pesantren Harus Adaptif dengan Teknologi Digital
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Calon bupati Bandung Kurnia Agustina Naser menilai keberadaan pondok pesantren merupakan kawah candradimuka untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul.

Calon Bupati Bandung nomor urut 1 ini mengatakan, keberadaan pondok pesantren di Kabupaten Bandung selama ini terbilang "pinunjul" (unggul) dalam menggodok mempersiapkan SDM-nya. Bahkan, sejumlah pondok pesantren sudah cukup luwes atau bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. 

"Banyak pondok pesantren mengikuti perkembangan zaman dan tidak alergi digital," kata perempuan yang akrab disapa Teh Nia itu usai bersilaturahmi dengan Pimpinan Pondok Pesentren Darus Surur KH Sulaeman Jazuli Yahya (Buya Anom) di Margaasih, Rabu (30/9/2020).

Dengan tidak alerginya dengan teknologi digital, Teh Nia mengyebutkan tentu menimbulkan preseden baik. Terlebih, di tengah masyarakat majemuk seperti saat ini keberadaan digital sudah tidak bisa terelakkan. 

"Kalau semua pesantren mengikuti ini maka kemajuan zaman yang sifatnya percepatan industri 4.0 atau 5.0 menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Karena memang pondok pesantren memegang peranan yang unggul dalam memimpin SDM di wilayahnya," ujarnya. 

Dia berjanji, jika dirinya diamanatkan menjadi bupati Bandung terpilih maka ke depan di percepatan industri 4.0 atau 5.0 pondok pesantren akan benar-benar diperhatikan agar bisa tetap eksis dan menyesuaikan perkembangan zaman. Sebab, dirinya mengaku memiliki sejumlah program untuk pembelajaran dengan sistem digitalisasi bagi para santriwan dan santriwati. 

"Beberapa program kami, yakni salah satunya adanya keberadaan bookles. Kalau kitab-kitab yang diharuskan dimiliki para snatri itu sangat banyak, kita permudah dengan adanya bookless. Aplikasinya namanya Fun Bookless," katanya.

Aplikasi tersebut, lanjut Nia, dinilai akan sangat membantu para santri dalam belajar. Hanya dengan mengunduh dan membarcode, maka isi kitab-kitab rujukan bagi para santri bisa langsung terbaca. 

"Jadi gadget atau handphone bisa digunakan lebih maslahat lagi," ujarnya. (Dani R Nugraha)