Indonesia-Inggris Kerja Sama di Bidang Riset Kebencanaan

Indonesia-Inggris Kerja Sama di Bidang Riset Kebencanaan
Ilustrasi
INILAH, Jakarta – Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang tahun 2018 telah terjadi lebih dari 2.564 bencana alam di Indonesia yang tidak hanya mengakibatkan kerugian material namun juga menimbulkan korban jiwa. 
 
Pemerintah pun menjadikan penelitian di bidang kebencanaan sebagai salah satu program utama sebagai upaya memetakan, mencari solusi, dan mencegah jatuhnya korban akibat bencana alam yang terjadi.
 
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, pemerintah melakukan riset dengan berkolaborasi bersama Britania Raya melalui Newton Fund ataupun dengan menggunakan dana dari Indonesia. 
 
Selain itu, Kemenristekdikti juga turut serta dalam mengedukasi mahasiswa dan masyarakat kampus agar melek mitigasi bencana.
 
Nasir menjelaskan, nantinya masyarakat umum akan mendapatkan edukasi mitigasi bencana dari para civitas akademika supaya mereka paham mengenai konsep ring of fire. 
 
Sebagai negara yang sering dilanda bencana, kata Nasir, sudah semestinya masyarakat Indonesia paham seluk-beluk mengapa bencana bisa terjadi dan bagaimana cara menghindarinya.
 
“Dengan demikian tidak terjadi korban yang berkelanjutan,” kata Nasir dalam konferensi pers ‘Peluncuran Kerja Sama Riset Kebencanaan Indonesia-Inggris melalui Program Newton Fund’ di Jakarta, Kamis (7/2/2019).
 
Kemenristekdikti mengadakan kerja sama dengan Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri Inggris melalui Newton Fund untuk mendanai penelitian terbaik dalam bidang hidrometeorologi (yang membahas hujan lebat beserta dampaknya).
 
Tiga penelitian terbaik di bidang kebencanaan hidrometeorologi mendapatkan Rp31 miliar untuk pendanaan riset dalam jangka waktu tiga tahun. Satu peneliti Indonesia akan berkolaborasi dengan satu peneliti Inggris untuk melakukan penelitian kebencanaan.
 
“Kerja sama riset kebencanaan dengan skema pendanaan Newton Fund ini berfokus pada bidang bencana hidrometeorologi. Kemenristekdikti dan peneliti Indonesia juga telah menginisiasi kerja sama riset kebencanaan gempa bumi, tsunami, asap, dan bencana alam lainnya dengan negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Prancis,” kata Nasir.
 
Sementara, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik mengharapkan, melalui skema kerja sama ini peneliti Indonesia dan peneliti Inggris dapat menghasilkan penelitian yang berdampak besar pada penanggulangan bencana banjir.
 
"Bencana banjir dan longsor tidak hanya mengancam keberlangsungan hidup masyarakat, namun juga perkembangan ekonomi Indonesia. Ilmuwan terbaik Inggris dan Indonesia akan bekerja sama saling belajar agar bisa membuat suatu perubahan besar serta menginspirasi generasi ilmuwan muda berikutnya," kata Malik.
 
Malik juga menyampaikan Inggris bangga dapat berkolaborasi dengan Indonesia dalam mengembangkan penelitian dan inovasi terkait kebencanaan. Sebab bidang sains dan riset Inggris menempati posisi kedua dunia, 54 persen hasil penelitiannya masuk ke dalam kategori terbaik dunia. 
 
Hasil riset Inggris dikutip lebih banyak, bila dibandingkan dengan hasil riset negara lainnya. 38 persen peraih Nobel memilih untuk bersekolah di Inggris. “Saya bangga kami bisa bermitra dengan ilmuwan di Indonesia serta berkontribusi membangun Indonesia yang lebih aman, lebih makmur dan lebih unggul,” ungkap Malik.