KPK Bacakan BAP Saksi, Tomtom Bantah Semuanya

KPK Bacakan BAP Saksi, Tomtom Bantah Semuanya
Foto: Bambang Prasethyo

INILAH, Bandung - Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK membacakan berita  acara pemeriksaan (BAP) saksi  Dedi Setiadi alias RT yang sudah meninggal dunia. Namun, terdakwa Herry dan Tomtom membantahnya. Sementara Kadar Slamet menambahkannya.

Keterangan kesaksian (Alm) Dedi Setiadi alias RT yang dibacakan JPU KPK di persidangan kebanyakan terkait kegiatan proyek RTH dari mulai pencarian lahan hingga pencairan anggaran, dan pembagian keuntungannya. Dedi Sendiri merupakan tangan kanan Kadar Slamet yang ditugaskan mencari lahan untuk digunakan sebagai RTH.

Seperti pemberian kepada anggota DPRD Kota Bandung Tomtom Dabbul Qomar, Lia Nurhambali, dan Riantono hingga pemberian kepada Herry Nurhayat dari Kadar Slamet yang bersumber dari keuntungan pengadaan lahan RTH Kota Bandung.

”Pemberian kepada Riantono anggota Banggar sebanyak dua kali di lobi Banggar DPRD Kota Bandung, nilanya saya tidak tahu. Kemudian kepada Lia Nurhambali dua kali, di teras rumah dan lobi Banggar. Kepada Tomtom Dabulqomar sebanyak dua kali, di pinggir jalan Gedebage dan Rumah Makan Legit Cipadung. Kemudian kepada Herry Nurhayat sebanyak tiga kali, tapi jumlahnya saya tidak tahu,” kata JPU KPK membacakan BAP Dedi di ruang 1 Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Senin (5/10/2020).

Usai BAP dibacakan, ketua Majleis T Benny Eko Supriadi pun langsung mempersilahkan para terdakwa untuk menanggapinya. Tomtom pun langsung membantah soal pertemuan di Gedebage dan RM Lezit, namun dia tidak menampik menerima sebanyak dua  kali dengan jumlah Rp 250 juta.

”Itu tidak benar. Terima dua kli iya. Di Legit itu saya pernah ketemu Kadar di 2003, bukan di 2012. Saya akui terima Rp 250 juta sama dengan rekan dewan lainnya,” katanya.

Lain halnya dengan Kadar, Tomtom justru ingin menambahkan keterangan dari BAP Dedi Setiadi yang dibacakan oleh JPU KPK. Menurutnya, keterangan saksi ada yang kurang karena saya tidak memberitahukannya.

”Saya waktu itu bilang ke si RT (Dedi), tolong kasihkan ke mereka (Lia dan Riantono) Ayah (sebutan Kadar) ada rezeki tapi jangan bilang darimananya. Jumlahnya saat itu Rp 250 juta. Itu saya kasih karena pertemanan, dan gak ngasih tahu sumbernya dari mana,” ujarnya. (Ahmad Sayuti)