Dua Produk UMKM Ini Jadi Andalan Ekspor Purwakarta

Dua Produk UMKM Ini Jadi Andalan Ekspor Purwakarta
dok/inilahkoran

INILAH, Purwakarta – Pemkab Purwakarta meyakini kerajinan kriya khas Plered dan buah manggis merupakan komoditas produk andalan ekspor di sektor UMKM.  Namun, dikarenakan pandemi Covid-19 ini ekspor manggis maupun keramik menjadi terganggu.

Kabid UKM Dinas Koperasi UMKM Perdagangan dan Peridustrian Ahmad Nizar menuturkan, ekspor keramik ini sudah ada sejak dekade 80an. Sejak dulu, produk kerajinan kriya ini, banyak digemari warga asing. Adapun jenis yang paling banyak diburu, yakni vas bunga dan keramik hias. Dengan begitu, keramik dari tanah liat ini menjadi produk unggulan yang dimiliki Purwakarta.

“Kalau Keramik kita sudah lama ekspor ke berbagai Negara. Misalnya, pasar Eropa dan Amerika. Bahkan, saat ini keramik Plered juga banyak diminati warga Asia Timur Raya, salah satunya Korea Selatan,” ujar Nizar saat berbincang dengan INILAH, Selasa (6/10/2020).

Saat ini, kata dia, bukan hanya keramik khas Plered. Namun, ada beberapa produk UMKM lain yang juga jadi unggulan ekspor. Untuk bidang agro bisnis dan agro kultur misalnya, unggulannya adalah buah Manggis.

“Di bidang usaha kerajinan, unggulannya tetap keramik asal Kecamatan Plered. Sedangkan, di bidang agro bisnis dan agro kultur, itu buah manggis. Untuk saat ini, ekspor dua produk UMKM itu, tak perlu diragukan lagi,” jelas dia.

Menurut Nizar, sejauh ini potensi ekspor keramik asal Plered cukup menjanjikan. Pertahunnya, ekspor keramik ini bisa mencapai 400 sampai 1.000 kontainer. Omzetnya pun lumayan, yakni mencapai Rp 1-3 miliar per kontainernya. Adapun negara-negara tujuan ekspor keramik ini, yakni Eropa, AS, Arab Saudi dan Korea Selatan.

Sedangkan ekspor manggis negara tujuannya yakni Cina, Jepang serta negara-negara di Asia Tenggara. Khusus untuk manggis, tidak ada batas tertentu. Berapa pun hasil budidaya petani ini, pasti akan terserap oleh pasar ekspor. Terutama, pasar di negara tirai bambu tersebut.

Namun, di masa pandemi ini pasar ekspor mengalami kelesuan. Hal itu, tentu ada dampaknya bagi perajin maupun petani manggis. Akibatnya, ada penurunan permintaannya yang jika di persentasekan mencapai 50 persennya.

“Memang, pasar luar negeri sedang mengalami kelesuan akibat corona. Tapi ada berkah tersendiri, karena pasar dalam negeri justru mengalami geliat. Jadi, keramik saat ini justru diminati masyarakat dalam negeri. Kalau manggis, pada Oktober ini belum memasuki masa panen raya,” ujarnya.

Nizar mengatakan, saat ini jumlah pelaku usaha keramik Plered mencapai 264 warga. Sedangkan, jumlah pekerjanya mencapai 3.000 orang. Adapun untuk industri bata dan genteng, yang meliputi wilayah Citeko, Citalang, dan Tegalwaru, jumlahnya mencapai 40 ribu pekerja. Serta, ada 400 pengusaha. 

“Kalau manggis, sentranya ada di sejumlah kecamatan. Seperti, Wanayasa, Pondoksalam, Kiarapedes, Bojong serta Darangdan. Adapun lahan manggisnya, lebih dari 1.500 hektare,” pungkasnya. (Asep Mulyana)