PPMI Kabupaten Bogor Tolak UU Cipta Kerja

PPMI Kabupaten Bogor Tolak UU Cipta Kerja
Foto: Reza Zurifwan

INILAH, Bogor - Puluhan buruh yang tergabung dalam Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) ikut menolak UU Cipta Kerja yang baru disahkan.

Pasalnya, beberapa poin dalam UU Cipta Kerja merugikan kaum buruh hingga mereka meminta pemerintah pusat ataupun Presiden Joko Widodo untuk menggagalkan atau mencabutnya.

"Aksi long march kami dari kawasan industri di Kelurahan Nanggewer dan Sentul hari ini menuju Komplek Perkantoran Pemkab Bogor dalam rangka menolak UU Cipta Kerja atau Omnibus Law, kami meminta pemerintah pusat atau Presiden Jokowi untuk menggagalkan atau mencabutnya," kata Kordinator Lapangan Aksi Puji Santoso kepada wartawan, Selasa (6/10/2020).

Dia menerangkan poin-poin yang dianggap merugikan kaum buruh ialah penghapusan hak cuti, penghapusan uang pesangon hingga sistem pengupahan yang tidak adil.

"Banyak point-point yang merugikan kaum buruh dan ketimbang mengesahkan UU Cipta Kerja, lebih baik pemerintah pusat menyempurnakan UU Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003," terangnya.

Puji menjelaskan selain di Kabupaten dan Kota Bogor, jajarannya juga melakukan aksi demonstrasi tolak UU Cipta Kerja di Kota Tanggerang Selatan, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Cianjur.

"Aksi denonstrasi menolak UU Cipta Kerja ini kami lakukan serentak di beberapa kota dan kabupaten baik di Provinsi Jawa Barat maupun Provinsi Banten, dalam aksi ini PPMI Kabupaten Bogor tidak melakukan sweeping karena kami melakukan unjuk rasa yang damai apalagi saat ini masih pandemi Covid-19," jelas Puji.

Senada dengan itu, anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Ruhiyat Sujana juga menyuarakan hal serupa hingga meminta pemerintah pusat mendengar jeritan rakyat atau kaum buruh.

"UU Cipta Kerja jelas-jelas merugikan masyarakat bawah seperti buruh dan kami meminta agar UU yang dibuat tidak hanya mengakomodasi kepentingan investor tetapi lalai terhadap kepentingan masyarakatnya, kami juga menolak UU Cipta Kerja ini," tegas Ruhiyat. (Reza Zurifwan)