Anggota DPRD Jabar Ini 2 Kali Mangkir Hadiri Persidangan

Anggota DPRD Jabar Ini 2 Kali Mangkir Hadiri Persidangan
Foto: Ahmad Sayuti

INILAH, Bandung - Anggota DPRD Jabar Tina Wiryanti dua kali mangkir di persidangan kasus dugaan perkara dugaan tindak pidana UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Tim kuasa terdakwa Agung Dewi Wulansari, Rini Prihandayani pun sangat menyangkan ketidak hadiran Tina, dan meminta majelis dan JPU tetap menghadirkan saksi di persidangan selanjutnya.

Sidang digelar di ruang V Pengadilan Negeri (PN) Klas IA Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (8/10/2020). Sidang yang dipimpin Dalyusra. Setelah tim jaksa menyampaikan surat ketidakhadiran yang dilayangkan tim kuasa hukm terlapor sidang pun langsung ditunda.

Kuasa hukum terdakwa Agung Dewi Wulansari, Rini Prihandayani sangat menyangkan pelapor yang juga anggota DPRD Jabar Tina Wiryanti tidak hadiri sidang pemeriksaan saksi. Padahal keterangannya sangat penting bagi kliennya.

"Kami menyayangkan ketidak hadiran saksi pelapor padahal keterangannya di persidangan sangat dibutuhkan,"  katanya.

‎Agung Dewi didakwa melakukan tindak Pidana Pasal 45 ayat 2 juncto Pasal 28 ayat  3 Undang-undang No 19 Taun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik di dakwaan primer. Lalu Pasal 45 ayat 3 juncto Pasal 27 ayat ‎3 UU ITE pada dakwaan subsidair.

"Hari ini panggilan kedua tapi tetap tidak hadir. Dengan tidak hadir, upaya kami untuk menempuh kepastian hukum jadi semakin lama, apalagi klien kami saat ini ditahan," ujarnya. 

Berdasarkan dakwaan JPU, kasus ini terjadi pada Maret 2019 dan Desember 2018 di Kabupaten Ciamis dan di Kota Bandung. Terdakwa diduga dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan.

Pada 20 Desember 2018, saksi Tina Wiryawati dan timsuksesnya berkampanye legislatif DPRD Jabar kemudian diunggah di Facebook. ‎ Pada 23 Desember 2018, ada komentar dikirim oleh username terdakwa di postingan Facebook isinya : 'save GA agar bisa bertemu ayah kandungnya yaitu suami dr Tina Wiryawati. Tina adalah istri ke-5 dari kapten pilot senior GI'. Kemudian terdakwa kembali berkomentar ; 'yakin anda akan mendukung wanita seperti ini yang sudah zalim dengan seorang anak yang ingin ketemu bapaknya. Baca dulu dengan bijak jangan tertipu hanya dengan kerudung. Ibu tiri kejam tidak pantas jadi wakil rakyat yntuk partai besar yang terhormat'.

Lalu pada Maret 2019, saksi Tina Wiryawati sedang kampanye di Kabupaten Ciamis, diberitahukan oleh tim suksesnya bahwa ada pesan komentar Facebook atas nama akun terdakwa. Isinya: 'Suaminya seorang kapten pilot senior tapi dua anak kandungnya tidak pernah dianggap dan diabaikan. Pantaskah kalian dengan spirit The emak-emak punya caleg yang tidak peduli dengan anak kandung dari suaminya. Dia adalah istri kelima pak pilot. Baca dulu dengan bijak jangan tertipu hanya dengan kerudung ibu tiri kejam tidak pantas jadi wkail rakuat untuk partai besar dan terhormat'.

‎"Sebenarnya ini kasus keluarga, antara istri dan mantan istri,  dari pihak Agung Dewi sejak pemeriksaan di Polda Jabar sampai di tingkat Kejaksaan selalu meminta untuk dikonfrontir dan dimediasi dengan saudari Tina. Namun tidak terlaksana. Kami juga menyayangkan ini harus sampai ke pengadilan, padahal ini bisa selesai secara musyawarah mufakat," ucap dia. 

‎Sidang selanjutnya digelar pekan depan dengan agenda pemeriksaan Tina Wiryawati sebagai saksi pelapor. ‎(Ahmad Sayuti)