Bandelnya Pengguna Jalan Raya di Perlintasan Kereta Api

Bandelnya Pengguna Jalan Raya di Perlintasan Kereta Api
istimewa
Bandelnya Pengguna Jalan Raya di Perlintasan Kereta Api

INILAH, Bandung - Hingga kini, masih saja terdapat kecelakaan lalu lintas yang terjadi di perlintasan sebidang kereta api. Manajer Humas Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung Noxy Citrea Bridara mengatakan, sejak Januari hingga awal Oktober 2020 terdapat 25 kecelakaan di perlintasan jalur kereta api.

"Rinciannya, dari total kecelakaan itu terdapat jumlah korban meninggal sebanyak 15 orang dan luka berat 10 orang," kata Noxy, Jumat (9/10/2020).

Menurutnya, hal tersebut dapat dihindari jika seluruh pengguna mematuhi seluruh rambu-rambu yang ada. Untuk itu, dia mengimbau agar para pengguna jalan selalu berhati-hati saat akan melalui perlintasan sebidang kereta api.

“Diharapkan masyarakat dan pengguna jalan benar-benar mematuhi aturan di perlintasan sebidang ini. Kami himbau sekali lagi agar selalu disiplin dan waspada dalam berkendara. Tujuannya agar keselamatan perjalanan pengguna jalan dan kereta api dapat tercipta," jelasnya.

Noxy menyebutkan, jumlah perlintasan sebidang yang berada di wilayah Daop terhitung sebanyak 486 titik. Dari total tersebut, hanya 112 titik yang dijaga petugas. Sisasnya, sebanyak 374 titik tidak dijaga dan rawan terjadi kecelakaan.

Dia mengakui, hingga kini masih ada masyarakat pengguna jalan raya yang bandel menerobos perlintasan sebidang kereta api. Menurutnya, hal tersebut sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kecelakaan serius bahkan kematian. 
Noxy mengungkapkan bahwa setiap masyarakat yang menerobos perlintasan kereta maka mereka sudah melakukan pelanggaran undang-undang lalu lintas dan bisa terkena sanksi. 

Berdasarkan UU Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angutan Jalan, Pasal 114 menyebutkan pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib berhenti ketika sinyal sudah berbunyi dan mendahulukan kereta api.

“Apabila masyarakat pengguna jalan melanggarnya, maka akan dikenakan sanksi sesuai pasal 296 dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp750 ribu,” ujarnya.

Selain itu, dalam UU Nomor 23/2007 tentang Perkeretaapian Pasal 124 juga menyatakan pada perpotongan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api.

"Maka dari itu, ketika sudah ada tanda-tanda mendekati perlintasan sebidang KA, setiap pengguna jalan diharuskan untuk mengurangi kecepatan dan berhenti. Pengguna jalan harus tetap waspada dan mawas diri, tengok kanan kiri saat akan melintas dan pastikan tidak menerobos dengan alasan apapun," ucapnya. (*)