Demo Wartawan di Polres Cirebon Kota, 'Kami Jurnalis, Bukan Teroris!'

Demo Wartawan di Polres Cirebon Kota, 'Kami Jurnalis, Bukan Teroris!'

Solidaritas Jurnalis Anti Kekerasan, Boikot Pemberitaan Polres Cirebon Kota.

INILAH, Cirebon - Puluhan wartawan yang tergabung dalam Solidaritas Jurnalis Anti Kekerasan (SJAK) Cirebon, sepakat memboikot semua pemberitaan yang menyangkut Polres Cirebon Kota. Hal itu karena Kapolres Cirebon, AKBP Syamsul Huda enggan menemui puluhan wartawan yang melakukan aksi unjuk rasa, Senin (12/10/2020).

Aksi yang dilakukan SJAK di depan Mapolresta Cirebon tersebut, untuk mengutuk aksi kekerasan yang dilakukan polisi kepada jurnalis, saat liputan aksi unjuk rasa menolak UU Omnibuslaw Cipta Kerja dibeberapa wilayah.

Awalnya, puluhan jurnalis, cetak dan elektronik Cirebon, berjalan melakukan longmarch di depan Masjid Ataqwa menuju Mapolresta Cirebon. Sambil membawa puluhan poster dan membentangkan spanduk, mereka menyuarakan hak hak wartawan, yang terkadang rentan gesekan di lapangan dengan aparat. Ujung-ujungnya, mereka mengalami kekerasan yang dilakukan polisi.

"Kami ini jurnalis bukan teroris. Dimana Kapolres Ciko selama ini. Kerjanya hanya diam diam saja," kata para jurnalis.

Tiba di halaman Mapolresta, tidak ada penjagaan yang berarti. Beberapa anggota Polisi tampak santai menjaga pintu gerbang, sambil mengamati jalannya aksi unjuk rasa. Sementara, korlap aksi, Faisal Nuratman meminta Kapolres Ciko, Syamsul Huda untuk datang menemui pendemo. Selama ini, dimata jurnalis, Kapolres Ciko termasuk orang yang sulit untuk diminta konfirmasi.

"Mana pak kapolres. Datang sini temui kami. Kami ingin tanya, gimana komentarnya terkait banyak jurnalis yang dipukuli saat demo kemarin. Meskipun bukan di cirebon, tapi kami semua saling merasakan," teriak Faisal.

Hal senada dikatakan Muslimin saat melakukan orasi. Menurutnya, selama ini ada saja jurnalis yang dianiaya saat menjalankan tugas. Padahal, jelas hal itu sangat bertolak belakang dengan undang-undang. Di lain pihak, Kapolres Ciko seperti yang tidak butuh wartawan, dan hanya butuh ketika pada momet-moment penting saja," teriaknya.

Karuan saja, orasi tersebut membuat panas situasi. Puluhan wartawan meminta agar Kapolri segera turun tangan, dan memberikan sanksi kepada Kapolres Ciko. Ada juga yang berteriak, seolah olah mempertanyakan siapa nama Kapolres Ciko. Peserta aksi spontan menimpali dengan menyebutkan beberapa nama yang sempat menjadi Kapolresta.

"Sudah laporkan saja ke Kapolda, lalu kami akan bikin surat ke Kapolri. Biar dapat sanksi," ungkap para pengunjuk rasa.

Puluhan wartawan semakin kesal, saat ada konfirmasi bahwa Kapolres tidak bisa menemui mereka, dengan alasan yang tidak jelas. Karuan saja, kabar tersebut membuat puluhan jurnalis semakin kesal. Aksi pengumpulan kartu pers pun dilakukan. Sambil membuat lingkaran, mereka mengadakan tahlilan.

"Ini sudah keterlaluan. Kami sepakat, akan memboikot semua pemberitaan Polres Ciko, apapun bentuknya. Kalau saja nanti malam ada jurnalis yang datang ke undangan makan malam Kapolres Ciko, berarti mereka pengkhianat," ungkap Faisal.

Fajri yang kebagian orasi selanjutnya kembali mengingatkan, supaya jurnalis Cirebon menolak semua undangan apapun, terlebih undangan makan malam, yang jauh jauh hari sudah diagendakan. "Sekarang kita bubar. Awas saja, kalau nanti malam ada yang datang dan memenuhi undangan Kapolres, kita anggap pecundang dan pengkhianat," tukasnya sambil meminta jurnalis untuk bubar. (maman suharman)