Ahli Waris Ingin Jual Pesantren, Rumah Ustaz dan Asrama Santri Ditutup Pagar Seng

Ahli Waris Ingin Jual Pesantren, Rumah Ustaz dan Asrama Santri Ditutup Pagar Seng
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Diduga ingin menguasai lahan dan bangunan pesantren, seorang ahli waris di Desa Sukamenak Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung tega memagari pesantren Nurul Ain dengan seng. Pagar seng itu selain menutup bangunan pesatren juga menutup rumah ustaz Ahmad Syahidin yang merupakan pengasuh pesantren tersebut.

Pemagaran pesantren dan juga rumah ustaz Ahmad Syahidin itu terjadi pada Minggu (11/10/2020) kemarin. Ahli waris pemilik lahan dan bangunan pesantren berniat menjual pondok pesantren tersebut.

Syahidin mengatakan, pesantren tersebut didirikan pada 2006 di atas lahan milik Nuraini.

"Beliau mewakafkan tanah untuk dijadikan pondok pesantren. Saya di belakang ikut membantu bersama santri dan masyarakat. Akhirnya pada 2006 dibangunlah pondok pesantren ini," kata Syahidin, Senin (12/10/2020).

Dikatakan Syahidin, saat itu proses wakaf memang dilakukan tanpa ada legalitas atau tidak didaftarkan ke Kemenag. Masalah muncul ketika bangunan diresmikan, dan setelah itu hubungan Syahidin dengan Nuaini renggang gara gara ada pihak yang menghasut.

"Tidak tahu siapa yang menghasut, saya dikonflikan dengan pendiri pondok yakni Nuraini,  komunikasi kami berdua jadi susah. Tapi saya berusaha tetap baik, sampai beliau meninggal dunia," ujarnya.

Pihak keluarga atau ahli waris juga tidak menanyakan masalah pembangunan pondok pesantren. Karena merasa diberi tanggung jawab, Syahidin terus menggunakan bangunan pondok pesantren, hingga saat ini di pondok terdapat sekitar 250 an orang santri dari berbagai daerah. Namun, akhir akhir ini pihak ahli waris berniat mengambil alih pondok. Dengan alasannya ingin mengembangkannya.

"Katanya mau mengembangkan, tapi dengan mengalihkan dan ingin menjual tanah dan bangunan pesantren," ujarnya.

Namun, karena tanah menyatu dengan rumah milik Syahidin, pihak ahli waris menutupnya menggunakan seng. Hal tersebut dilakukan untuk memberi tanda batas tanah.

"Saya persilakan, itu hak mereka," katanya.

Berdasarkan pantauan lapangan, pagar seng yang disebut sebagai pembatas tanah terlihat menutupi seluruh bagian rumah Syahidin. Pemilik rumah hanya diberi sedikit ruang untuk akses keluar masuk. Sedangkan, aktivitas santri masih berjalan seperti biasa meski asrama tempat mereka tinggal dikelilingi pagar seng. (Dani R Nugraha)