DPRD Jabar Minta Pemkot Bandung Kaji Ulang Pembukaan Bioskop di Tengah Pandemi

DPRD Jabar Minta Pemkot Bandung Kaji Ulang Pembukaan Bioskop di Tengah Pandemi
dok/inilahkoran

INILAH, Bandung - Kebijakan yang diambil Pemerintah Kota Bandung (Pemkot) dengan membuka kembali tempat hiburan bioskop, di tengah pandemi Covid-19 sebagai salah satu solusi guna menumbuhkan geliat perekonomian, dinilai Sekretaris Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat Yunandar Rukhiadi Eka Perwira adalah hal yang wajar.

Hanya saja kata dia, perlu adanya strategi khusus atau inovasi agar jangan sampai kebijakan tersebut justru menjadi bumerang, yang pada akhirnya mengorbankan masyarakat. Mengingat berdasarkan hasil penelitian selama ini, salah satu sumber penyebaran virus Covid-19 paling cepat adalah melalui sirkulasi udara di ruang tertutup. Dikhawatirkan, akan muncul klaster baru paska dibukanya kembali bioskop.

“Saya melihat, membuka tempat hiburan seperti bioskop ini harus disikapi hati-hati. Harus ada standar kesehatan atau kalau perlu harus ada treatment khusus di tiap lokasi. Kita tahu, bahwa penularan Covid-19 ini katanya paling cepat di ruangan tertutup yang menggunakan AC (Air Conditioner). Nah, bioskop ini kan semuanya pakai AC. Jadi harus ada upaya, misal bisa enggak di bioskop tidak pakai AC atau di ruang terbuka? Atau mungkin bisa mencontoh Jakarta, dulu mereka mengadakan konser dan bioskop drive-in,” ujar Yunandar kepada INILAH, Rabu (14/10/2020).

“Kita tidak boleh mengorbankan masyarakat, dengan terlalu terburu-buru ambil sikap. Walaupun ekonomi juga penting. Harus ada solusi jalan tengah, bagaimana caranya dengan bioskop dibuka tetapi bisa terhindar dari penularan baru atau klaster baru. Ini yang harus dipikirkan,” sambungnya.

Selain itu, Yunandar mengatakan pemerintah juga perlu melakukan observasi terlebih dahulu mengenai prilaku masyarakat terhadap Covid-19. Tujuannya adalah untuk menghindari kebijakan yang dapat menjadi sumber penyebaran virus tersebut. Sehingga ketika pemerintah ingin berusaha membangkitkan perekenomian, dari segi kesehatan masyarakat tidak berdampak.

“Kita harus lihat pola penyebaran dan juga prilaku masyarakat. Kita perlu hati-hati, sebelum mengambil sebuah kebijakan. Seperti ketika kita buka mall kemarin. Alhamdulillah tidak ada klaster baru, karena aturannya yang ketat untuk pencegahan. Nah demikian pula dengan bioskop. Harus ekstra ketat, baik dengan tetap mengikuti protokol kesehatan tetapi juga mengkaji lebih dalam prilaku masyarakat terutama ketika dalam bioskop. Sebab treatment ketika di mall dan dalam bioskop pasti berbeda,” ucapnya. (Yuliantono)