Pemuka Agama, Bangun Koalisi Perdamaian Global

Pemuka Agama, Bangun Koalisi Perdamaian Global
Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin. (antara)

INILAH, Bandung - Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin mengajak seluruh pemuka lintas agama di Indonesia berperan aktif dalam membangun koalisi untuk perdamaian global dan ikut membantu penyelesaian konflik keagamaan di negara-negara sahabat.

"Kita sebagai pemuka dan penganut agama yang taat, perlu membangun suatu 'koalisi lintas agama untuk perdamaian global' yang mengedepankan semangat kerukunan dan narasi perdamaian ke seluruh penjuru dunia," kata Ma'ruf Amin pada Peringatan Hari Lahir Ke-2.571 Nabi Kongzi secara virtual, Selasa.

Ma'ruf mengatakan konflik yang melibatkan antarumat beragama di berbagai negara terjadi karena kelompok masyarakat masih belum menerapkan ajaran agama dalam mewujudkan perdamaian dan kerukunan, serta menghindarkan diri dari perilaku destruktif.

"Sebaliknya, agama masih sering dijadikan alat pembenaran dan alasan dalam suatu konflik dan peperangan. Sekali lagi, kenyataan itu sangatlah kita sayangkan dan harus kita koreksi," kata Wapres menegaskan.

Ma'ruf mengambil contoh konflik keagamaan yang menimbulkan ketidakadilan bagi umat Islam terjadi antara lain di India dan Myanmar. Ma'ruf menyesalkan konflik tersebut masih terjadi.

"Sebagai contoh dapat kita sebutkan terjadinya kekerasan berlatar belakang agama yang terjadi, seperti kasus perlakuan diskriminatif terhadap muslim di India dan muslim Rohingya di Myanmar yang patut kita sesalkan," katanya.

Dalam upaya menjaga perdamaian di dalam negeri, Ma'ruf Amin menekankan pentingnya penguatan narasi kerukunan untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan suku, agama, dan ras yang ada di Indonesia.

"Narasi kerukunan sangat penting untuk terus kita kobarkan di Tanah Air, karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Sebagai bangsa yang majemuk, pilar kekuatan bangsa Indonesia terletak pada keragamannya," katanya.

Selain itu, merawat dan menerapkan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara juga harus digalakkan sebagai upaya menjaga kerukunan masyarakat antarumat beragama, antarkelompok, dan antargolongan.

"Menjaga dan merawat Pancasila tidak cukup hanya dengan membaca catatan sejarah dan menghafalkan rumusannya saja. Agar terus kukuh sebagai ideologi yang hidup, nilai-nilai luhur Pancasila harus dimanifestasikan dalam karya dan amalan nyata masyarakat dan setiap warga bangsa Indonesia," ujarnya. (antara)