Ada Tawaran Minyak Jelantah Disulap Jadi Biodesel, Pemkot Bogor Menyambut Baik

Ada Tawaran Minyak Jelantah Disulap Jadi Biodesel, Pemkot Bogor Menyambut Baik
Istimewa

INILAH, Bogor - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mendapat tawaran kerja sama dari PT Marubeni Indonesia dalam pemanfaatan pengolahan limbah minyak jelantah.

Tawaran pemanfaatan limbah ini pun disambut baik Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim. Perusahaan asal Jepang tersebut optimistis pemanfaatan minyak jelantah untuk produksi Biodiesel ini bisa menjadikan proyek percontohan bagi daerah-daerah lainnya.

Dedie mengatakan, dengan melakukan pengolahan limbah yang baik, tentu akan menimbulkan ekosistem yang baik pula. 

"Meski begitu,Kota Bogor sudah pernah memiliki pengalaman dalam pemanfaatan limbah dari minyak jelantah yang dijadikan bahan bakar," ungkap Dedie pada Minggu (18/10/2020).

Dedie menjelaskan, kala itu sempat tersendat oleh pasokan bahan dari minyak jelantah itu sendiri, sehingga tidak seimbang antara kebutuhan dan produksi.

"Tapi kelemahannya adalah kelangsungan proses pengelolaan yang kalau menurut saya tidak mungkin hanya dilakukan oleh pemerintah. Jadi artinya ini kan sebuah siklus proses produksi, meskipun bahan dasarnya adalah limbah B3 jelantah," tambahnya.

Dedie menerangkan, penjajakan kerja sama dengan perusahaan swasta itu, menurutnya akan kembali di detailkan dan dibahas lebih jauh bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor karena pertemuan pada Jumat (18/10/2020) sudah melakukan pertemuan awal.

"Namun begitu, PT. Marubeni masih harus mencari sumber-sumber pasokan minyak jelantah yang akan dimanfaatkan untuk biodiesel di Kota Bogor nantinya," terangnya..

Saat ini, lanjut Dedie, DLH sudah memiliki modal dalam mengelola seperti Bank Sampah Berbasis Aparatur (Basiba). Namun limbah yang dikelola oleh Basiba ini hanya meliputi plastik, kertas dan logam.

"Hampir ada 300-an titik Basiba. Nah yang sekarang ini kan hanya plastik, kertas, logam, yang punya manfaat. Ternyata ada lagi satu potensi, yaitu jelantah. Jadi tinggal ditambah," tuturnya.

Dedie menjelaskan, saat ini pemkot sudah memiliki pengolahan limbah katering. Menurut dia, jika hal itu dikelola dengan baik, tentunya akan bisa menjadi sumber-sumber pasokan tetap untuk dimanfaatkan menjadi biodiesel. Selain limbah katering, bisa juga limbah dimanfaatkan minyak jelantah dari perumahan teratur, rusunawa, hotel, industri, restoran atau kafe. 

"Tempat tersebut nantinya bisa menjadi potensi besar untuk pasokan bahan baku, jika kerja sama itu terjalin. Jadi memang sebetulnya ada, tinggal bagaimana kita benar-benar nanti kedepan ini dikonsepkan dengan baik. Dan kemudian direalisasikan tentu dengan sebuah komitmen bersama," pungkasnya.