UIN SGD Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum Prodi S3 Pendidikan Islam

UIN SGD Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum Prodi S3 Pendidikan Islam
Foto: Okky Adiana

INILAH, Bandung - Program Studi Doktor Pendidikan Islam (S3) Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung menggelar Workshop Pengembangan Kurikulum bertajuk "Pengembangan Kurikulum Pendidkan Islam S3 Mengacu KKNI Berbasis Wahyu Memandu Ilmu sebagai Upaya Peningkatan Mutu Doktor Pendidikan Islam”, Senin (19/10/2020).

Direktur Pascasarjana UIN SGD Supiana menjelaskan, pengembangan kurikulum Prodi S3 Pendidikan Islam harus mengacu kepada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)yang didasarkan pada wahyu memandu ilmu dan berusaha untuk memadukan nilai-nilai moderasi beragama.

"Hasil yang diharapkan dari workshop ini dapat melahirkan produk terbaik dengan mengimplementasikan bentuk pengembangan formal kurikulum Pendidikan Islam yang sudah berkembang menjadi tiga konsentrasi. Untuk itu, pengembangan tidak hanya dilakukan pada Disertai, tetapi dalam proses perkuliah mampu memadukan nilai-nilai moderasi beragama, khususnya Islam dalam bidang pendidikan," paparnya.

Sementara itu, Ketua Prodi Pendidikan Islam S3 Muhibbin Syah menjelaskan workshop diikuti 38 peserta terdiri dari unsur guru besar, dosen homebase pada Prodi Pendidikan Islam S3, dosen pascasarjana, dosen program sarjana, mahasiswa, alumni, dan pengguna lulusan.

Menurutnya, hal ini untuk melakukan inovasi kurikulum berbasis moderasi beragama itu caranya dengan pemikiran mengenai program inovasi kurikulum yang ada dengan memasukkan nilai-nilai moderasi beragama yang diharapkan bukan hanya membuat lulusan berilmu dan berketerampilan hebat melainkan juga berpikir dan berperilaku moderat.

Kuncinya terletak pada toleransi dan moderasi. Kata toleransi adalah nomina yang berasal dari kata Inggris tolerance yang berarti kelapangan dada atau kesabaran. Kata sifatnya adalah tolerant yang dalam bahasa Indonesia disebut toleran yang berarti menghargai perbedaan. Akar kata tolerance adalah verba to tolerate yang berarti antara lain bersabar menghadapi atau tahan terhadap.

"Orang yang berjiwa toleran adalah orang yang berjiwa legowo dalam arti tidak akan mudah tersinggung apa lagi marah saat dikritik oleh orang yang memiliki pandangan, budaya, dan agama yang berbeda dengannya. Sebaliknya, ia akan menghargai perbedaan dan keanekaragaman budaya, mazhab, bahkan agama sebagai realitas yang ada di muka bumi," jelas guru besar UIN SGD itu.

Moderasi dijelaskan Muhibbin merupakan nomina yang berasal dari kata Inggris moderation. Artinya, sikap yang tidak berlebihan. Kata ini juga dapat berarti sikap yang sedang atau sikap yang sederhana dan tidak ekstrem. Akar kata moderation adalah verba to moderate yang berarti membuat sesuatu tidak berlebihan atau lunak. Selain sebagai verba, (kata kerja), moderate juga merupakan kata benda (nomina) dan kata sifat (adjektiva).

"Orang yang moderat dalam beragama adalah orang yang memiliki ketaatan beragama dengan sikap dan perilaku keberagamaan yang sedang, tidak ekstrem apa lagi radikal," paparnya.

Moderasi adalah wawasan yang berorientasi pada sikap dan perbuatan yang tidak berlebihan (pertengahan, sedang). Sikap dan perbuatan seperti ini dapat membuat orang menjadi moderat. Orang moderat adalah orang yang berperilaku secukupnya dalam arti tidak kurang dan tidak lebih sehingga kebutuhannya terpenuhi tanpa perlu memubazirkan sesuatu.

Selain itu, orang moderat juga cenderung bersikap dan berbuat adil tidak hanya terhadap diri dan keluarga (kelompoknya) saja tetapi juga terhadap orang (kelompok) lain meskipun mereka tidak disukai bahkan dibenci.

Moderasi memiliki signifikansi atau arti penting dalam kehidupan sehari-hari, karena selain dapat membuat orang menjadi moderat moderasi juga dapat membuat orang berlaku adil dan bersikap toleran dalam arti dapat bertenggang rasa dan menghargai perbedaan misalnya dalam bermazhab atau beragama.

"Alhasil, dalam ajaran Islam berbuat adil bukan hanya berlaku untuk orang atau kelompok yang sesuku, semazhab atau seagama saja melainkan juga untuk orang atau kelompok yang berasal dari suku, mazhab, dan agama yang berbeda. Bahkan, keadilan (fairness) wajib ditegakkan terhadap orang yang kita benci sekalipun! Kita dilarang berbuat zalim misal merampas hak seseorang walaupun kita tidak menyukai, membenci orang tersebut," tuturnya.

Sementara moderasi beragama (religious moderation) bukan moderasi agama juga bukan modernisasi agama. Moderasi beragama merupakan wawasan atau cara pandang keberagamaan yang berimbang, sedang, tidak berlebihan, dan dapat membuat orang menjadi moderat dalam beragama.

"Orang yang moderat dalam beragama adalah orang yang menganut dan menjalankan ajaran agama dengan sikap dan perilaku keberagamaan yang secukupnya, tidak berkekurangan atau berkelebihan, juga tidak ekstrem,” pungkas Muhibbin. (Okky Adiana)