Tetap Berdikari di Tengah Pandemi

Tetap Berdikari di Tengah Pandemi

PEMERINTAH Kota Bandung bertekad terus mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mengatasi permasalahan perekonomian di masa pandemi ini.Komitmen itu disampaikan Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana saat mengunjungi usaha kerajinan wayang golek yang kian hari, semakin menurun peminatnya, serta perajin kaki palsu Kota Bandung.

Yana Mulyana juga meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bersama Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) dapat bersinergi untuk melakukan Kolaborasi dengan para pihak dalam membantu minat beli dari pengunjung pada kerajinan asal Kota Bandung seperti wayang golek cupumanik.

“Saya harapkan nanti Disbudpar itu bisa bekerja sama dengan Asita atau PHRI. Nanti tamu dari luar Bandung atau wisatawan bisa dibawa ke sini,” ungkap Yana saat berkunjung ke galeri kerajinan wayang golek cupumanik Jalan H. Akbar Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Senin (12/10).

Melalui kolaborasi, ia berharap dapat membantu pengrajin mendongkrak pemasaran karyanya secara online maupun konvensional. “Mudah-mudahan bisa membantu peningkatan pemasaran dari produk-produk kebudayaan,” harapnya.

Yana pun mengapresiasi perajin yang tetap menjaga konsistensinya dalam membuat kerajinan dan budaya wayang golek tersebut. “Tadi melihat pembuatannya (kerajinan Wayang golek) bagus, pekerjaan rapih, cukup detil dan harga juga relatif cukup wajar,” katanya.

Usai meninjau perajin wayang golek, Yana juga secara khusus melihat aktivitas di sentra pembuatan kaki palsu. Yana pun mengaku sangat mengapresiasi dan siap membantu penjualan kaki palsu tersebut. Terlebih, selama ini perajin kaki palsu merangkul pegawai dari kalangan disabilitas yang notabenenya memiliki keterbatasan fisik.

"Mudah-mudahan nanti apa yang Pemkot Bandung bisa bantunya, insyaalah kita akan berikan," ungkap Yana saat meninjau pembuatan kaki palsu di Jalan AH Nasution RT 01/RW 01 Kelurahan Palasari, Kecamatan Cibiru, Senin (12/10).

Menurut Yana, Pemkot Bandung, sangat mendukung UKM yang kreativitas. "Pastinya kita akan bantu pemasarannya membuat katalog atau brosur yang bisa dititip rumah sakit atau apapun. Mungkin saja ada beberapa masyarakat yang dapat musibah, kalau ternyata diberi informasi tempat ini ada alat bantu yang diberikan bisa aktivitas normal kembali," imbuhnya.

Yana juga sangat mendukung usaha pembuatan kaki palsu karena usaha tersebut sekaligus sebagai ruang untuk membuka lapangan pekerjaan. "Tadinya yang kerja di sini juga membeli alat bantu. Ternyata bisa direkrut dan bisa membantu juga dengan keahliannya," katanya.

Tak hanya itu, Pemkot Bandung pun mengapresiasi atas kegigihan para pelaku usaha tersebut. Pasalnya dengan keterbatasan fisik, namun semangatnya masih kuat.

Sementara itu, pemilik usaha pembuatan kaki palsu, Dadan Hernawan menyampaikan, dalam satu hari bisa memproduksi 4-5 kaki. "Sehari itu tergantung permintaan. Kalau banyak, 1 bulan bisa mencapai 100 kaki. Sehari juga 4-5 kaki selesai dikerjakan," katanya.

Dadan yang mempekerjakan tujuh orang, setiap bulannya bisa menghasilkan sekitar Rp20 juta."Pegawai itu tujuh orang. Kalau omzet kotornya Rp20 juta per bulan. Belum termasuk bayar sewa dan gaji pegawai," jelasnya.

Dadan tak khawatir kekurangan bahan baku, karena bahan spons di kawasan Cibaduyut sering digunakan dalam bahan sepatu. "Bahannya itu gampang di Cibaduyut itu spons. Ini jelas tidak ada produk luar," katanya.

Mengenai harga, Dadan mengaku bisa dinegosiasikan. Karena ia melihat latar belakang keadaan pemesan. "Harganya tergantung bahan. Standarnya Rp4 juta. Kalau saya jual itu seperti orangnya mampu harganya ya pas secukupnya. Jika keadaan tidak cukup ya. kita berikan di bawah (standar harga)," akunya.