Massa Aksi Penolakan UU Cipta Kerja Blokir Jalan Raya Bandung-Garut, Ancam Tutup Akses Tol

Massa Aksi  Penolakan UU Cipta Kerja Blokir Jalan Raya Bandung-Garut, Ancam Tutup Akses Tol
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Gabungan buruh dan mahasiswa kembali menggelar aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja. Massa aksi ini melakukan aksi jalan kaki dari Rancaekek hingga Cileunyi, Selasa (20/10/2020).

Berdasarkan pantauan lapangan, ribuan orang buruh dan mahasiswa ini berjalan dari arah Rancaekek menuju Cileunyi. Akibatnya, ribuan orang yang melakukan long march itu mengakibatkan arus lalu lintas dikedua arah di Jalan Raya Bandung-Garut macet parah. 

Selain memacetkan arus lalu lintas di sepanjang Jalan Raya Bandung-Garut, para pengunjuk rasa juga sempat mengancam akan menutup gerbang tol Cileunyi selama dua hari ke depan.

"Kami akan berunjuk rasa selama tiga hari, 20-22 Oktober mendatang," kata juru bicara aksi Rismanto saat berunjuk rasa di simpang Cileunyi.

Rismanto mengatakan, target dari aksi tersebut adalah melakukanpenutupan gerbang tol Cileunyi. Agar aspirasi mereka didengar oleh  pemerintah untuk membatalkan Undang-undang Cipta Kerja yang dipandang merugikan buruh.

"Tujuan kami menutup gerbang tol Cileunyi, supaya perekonomian di sekitar Rancaekek dan Cileunyi bisa terganggu bahkan lumpuh. Supaya pemerintah bisa melihat di daerah bergejolak dan segera mencabut UU Cipta Kerja," ujarnya.

Meski demikian, karena petugas keamanan melakukan pengadangan sebelum massa aksi tiba di gerbang tol, aksi tutup gerbang pun urung dilakukan.

Rismanto melanjutkan, pihaknya akan melakukan evaluasi dari aksi unjukrasa tersebut sambil melakukan negosiasi dengan aparat kepolisian. Apalagi, masih terdapat dua hari ke depan untuk melakukan aksi dan menggalang kekuatan lebih besar.

Untuk mencegah penutupan gerbang tol Cileunyi, ratusan aparat kepolisian melakukan penghadangan. Terdapat dua lapis pengamanan yang dilakukan petugas kepolisian untuk mencegah massa aksi menutup gerbang tol Cileunyi. Lapis pertama adalah pengendali massa dari Polresta Bandung yang dilengkapi oleh tameng transparan dan gas air mata.

Di belakang Dalmas, terdapat lapisan selanjutnya dari pasukan pembubar massa Brimob Polda Jabar yang dilengkapi tameng hitam, pentungan, dan gas air mata.

Sementara, massa aksi terlihat membuat rantai manusia bersiap melakukan pendobrakan. Meskipun suasana sempat memanas, namun aksi unjuk rasa tetap berjalan tertib tanpa diwarnai kerusuhan.

Kanit Turjawali Satlantas Polresta Bandung AKP Kiki Hartaki mengatakan, untuk mengantisipasi kematan pihaknya melakukan rekayasa lalu lintas di jalan Bandung-Garut.

"Untuk sementara kami lakukan contraflow," katanya.

Contraflow dilakukan hanya di sekitar massa aksi sedang berjalan kaki. Pengguna jalan dari arah Garut menuju Bandung dialihkan sementara ke lajur Bandung-Garut. Namun di putaran selanjutnya, arus kembali diarahkan ke lajur Garut-Bandung.

Selain itu, pihak kepolisian juga menyiapkan dua alternatif jalur dari Garut menuju Bandung. Alternatif pertama, petugas akan mengalihkan kendaraan dari Garut Tasik menuju Bandung, bisa menggunakan jalan alternatif, Nagreg, by pass Cicalengka, Parakan Muncang, Cimanggu, Simpang Pamulihan, Tanjung Sari, Cileunyi.

Jalur alternatif kedua yakni Nagreg, Cicalengka, Majalaya, Solokan Jeruk, Dangdeur Rancaekek, atau Ciparay, Baleendah, Bojongsoang, Dayeuhkolot Bandung. Kemudian, dari arah Bandung yang akan menuju Garut petugas akan dialihkan menuju Nagreg-Parakan Muncang-Nagreg. (Dani R Nugraha)