Alih Fungsi Lahan Diduga Penyebab Banjir Bandang Cilengkrang

Alih Fungsi Lahan Diduga Penyebab Banjir Bandang Cilengkrang
INILAH,Bandung- Alih fungsi lahan di wilayah hulu, diduga kuat sebagai penyebab terjadinya banjir bandang yang di Jati Endah Regency Dusun Pasirjati RT4 RW 16 Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung, Sabtu (9/2) malam WIB.
 
Banjir bandang tersebut membuat tanggul Pasirjati jebol hinggag menewaskan tiga orang warga. Karena diduga terjadi pelanggaran lingkungan, pihak Polres Bandung segera turun tangan untuk melakukan penyelidikan.
 
"Kami akan melakukan investigasi soal kejadian ini. Apakah karena kelalain atau kesengajaan,"kata Kapolres Bandung, AKBP Indra Hermawan di lokasi kejadian, Minggu (10/2).
 
Indra mengatakan, pihaknya juga akan memanggil pihak developer Komplek Jatiendah Regency, untuk menanyakan soal pembangunan perumahan tersebut.
 
"Iya,  kita akan coba memanggil develover. Kita akan melihat bagaimana pembangunannya, termasuk Tembok Penahan Tebing (TPT) apakah memang sesuai dengan aturan tidak," ujarnya.
 
Dikatakan Indra, jika ditemukan pelanggaran hukum, pihaknya tak akan segan melakukan penindakan. 
 
"Ada sanksinya, kami akan banyak berkoordinasi dengan pemerintah daerah, mau lihat ini kawasan apa, pembangunan bagaimana dan perizinannya bagaimana," ujarnya.
 
Sampai sejauh ini, lanjut Indra, soal perizinan bangunan sudah ada perizinan teknis dari pihak pemerintahan, dimana dalam mengeluarkan perizinan ada kajian dahulu.
 
"Kami akan menindaklanjuti, apakah ada aduan dari masyarakat soal penyalahgunaan dan sebagainya," katanya.
Namun untuk saat ini, pihaknya lebih dulu msngutamakan keselamatan warga. Serta membersihkan material bangunan yang berserakan di pemukiman warga.
 
Sementara itu, Bupati Bandung Dadang M Naser yang ditemui ditempat yang sama mengatakan, penyebab jebolnya tanggul di perumahan tersebut masih dalam penelusuran. Pihaknya berjanji akan melakukan evaluasi.
 
"Kami akan evaluasi sampai ke atas, pohon berkurang. Pola tanam yang dilakukan masyrakat, pola tanamnya enggak pakai sengkedan," katanya.
 
Dadang lantas menyinggung keberadaan Komplek Jatiendah Regency yang berada di Bandung Utara (KBU).   "Kalau ini di daerah ini masih di bawah yang di atas itu KBU, di sini belum KBU," ujarnya. 
 
Menurutnya Dadang, aturan membangun bangunan di wilayah KBU, 20 persen di bangun dan 80 persen merupakan ruang hijau. Ia mengklaim,  pembangunan sudah dikendalikan 20 persen terbangun, namun yang 80 persen dihijaukan belum dapat diketahui.
 
"Ada catatan dan pasti dievaluasi oleh kami. Sebelah sini perpaduan dengan Cimenyan. Ini saut bersaut dengan Bandung dan kawasan KBU.
Warga harusnya ikut aturan ini. Kalau di dataran bawah, 60 persen bangunan, 40 persen hijau. Itu yang di dataran biasa. Kalau di dataran ke atas sedikit terbalik, 40 persen bangunan dan 60 persen hijau. Makin atas 15 terbangun dan 85 persen hijau. Ini aturan KBU," katanya.
 
Dikatakan Dadang, peruntukan kawasan tersebut sudag benar untuk pembangunan pemukiman. Namun, hal yang harus diperhatikan adalah pembangunan harus tetap sesuai prosedur. 
 
"Kalau ini kawasan bawah, ini benar. Tapi, benteng ini yang enggak pakai besi. (Kalau mau membangun) Mereka harus patokan sama KBU kalau tidak ya kita tidak izinkan. Tidak ada izin keluar, harus ada rekomendasi Gubernur 15 persen 85 persen," ujarnya.
 
Dadang mengimbau masyarakat Bandung khususnya yang ada di seputar kaki-kaki gunung kembali harus waspada dengan derasnya arus hujan.
 
"Mohon kewaspadaan ditingkatkan terkait dengan kondisi cuaca yang semakin buruk. Hujan masih terus akan berlanjut selama tiga bulan," katanya.