Ade Yasin Gandeng IPB Dukung Ekspor Tanaman Hias

Ade Yasin Gandeng IPB Dukung Ekspor Tanaman Hias
Bupati Bogor Ade Yasin. (Reza Zurifwan)

INILAH, Tamansari- Menggandeng IPB University, Pemkab Bogor akan memberikan pendidikan plasma nuftah atau kultur jaringan kepada para petani tanaman hias.

Hal itu karena seiring meningkatnya eksport tanaman hias maka ada potensi kelangkaaan, selain itu dengan menggunakan teknologi plasma nuftah atau kultur jaringan juga akan meningkatkan produksi tanama hias.

"Dengan terjadinya pandemi wabah virus corona (Covid 19) ada dampak positif khususnya kepada petani tanaman hias dimana tanaman hias kita banyak yang diekspor ke benua Amerika, Eropa dan juga Asia. Ada potensi akan kelangkaan tanaman hias apabila jika kita terus eksport hingga untuk mengantisipasinya kami bersama IPB University akan mengajakan petani tanaman hias dengan teknologi plasma nuftah atau kultur jaringan,"  kata Bupati Bogor Ade Yasin kepada wartawan, Kamis, (22/10).

Dia menambahkan dukungan lainnya Pemkab Bogor kepada para petani yaitu berupa pemanfaatan cadangan tanah makam kepada kelompok petani tanaman hias.

"Pemkab Bogor dengan syarat-syarat tentunya memperbolehkan para kelompok petani tanaman hias memanfaatkan lahan cadangan makam yang lokasinya tersebar di 40 kecamatan untuk dijadikan sentra tanaman hias," tambahnya.

Kepala Dinas Pertanian, Holtikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor Siti Nuriyanti menuturkan dengan memanfaatan  teknologi plasma nuftah atau kultur jaringan maka akan meningkatkan omset petani tanaman hias.

"Tahun 2020 ini kami menargetkan ekspor 4,6 juta bunga potong dan 1,5 juta tanaman hias, maka apabila kita menggunakan teknologi plasma nuftah atau kultur jaringan maka akan meningkatkan jumlah ekspor dan juga omset petani tanaman hias," tutur Nuriyanti.

Ia menjelaskan ada perbedaan selera pasar untuk ekspor dan untuk kolektor di dalam negeri, hal itu menurutnya menguntungkan para petani tanaman hias.

"Ada perbedaan selera atau segment antara tanaman hias yang diekspor maupun yang dijual ke para kolektor tanaman hias di dalam negeri, hal ini menjadi berkah tersendiri bagi para petani tanaman hias yang omset eksportnya saja bisa Rp 4 hingga 5 miliar perbulan," jelasnya.

Salah satu eksportir tanaman hias asal Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari bernama Taufik atau yang kerap disapa Odoy menyambut baik akan program pendidikan pemanfataan teknologi plasma nuftah atau kultur jaringan.

"Lambatnya produksi atau pembibitan tanaman hias memang menjadi kendala bagi petani tanaman hias karena kita butuh 3 hingga 4 bulan untuk pembibitan, dengan menggunakan plasma nuftah atau kultur jaringan saya yakin pembibitan tanaman hias ini bisa dilakukan secara 'massal'," tukas Odoy. (Reza Zurifwan)