Tolak RUU Permusikan, Ratusan Musisi di Bogor Turun ke Jalan

Tolak RUU Permusikan, Ratusan Musisi di Bogor Turun ke Jalan
Ratusan seniman, musisi jalanan dan pengiat musik Kota Bogor tolak RUU Permusikan
INILAH, Bogor - Ratusan  seniman, musisi jalanan dan pengiat musik Kota Bogor mengelar aksi damai penolakan Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusi­kan.
 
Seperti diketahui, RUU kontroversial itui masih digarap di DPR RI. Para musisi di Bogor pun turun ke jalan di kawasan Tugu Kujang, Kecamatan Bogor Tengah, Minggu (10/02) siang WIB. 
 
Para musisi menilai RUU Permusikan yang tujuan awalnya digarap untuk mengatur tata kelola industrinya dan pendidikannya, malah justru lebih membatasi proses kreatif dan berkesenian para musisi
 
Pendiri Rumah Kreatif dan Kebun Sastra Kota Bogor, Heri Syahnilla mengungkapkan aksi damai akan penolakan RUU Permusikan, merupakan gerakan jiwa dari para seniman dan musisi. Mereka ingin mengabarkan bahwa  adanya penolakan keras akan RUU yang tengah di usulakan
oleh Anggota DPR RI.
 
"Saya menilai RUU Permusikan cacat dari segi naskah akademik hingga dapat mematikan ekosistem permusikan musisi tanah air. Apalagi di dalamnya ada pasal yang mengatur tentang kebebasan dalam berkarya sehingga sangat merugikan para seniman," ungkapnya disela aksi.
 
Menurut Heri, bahwa karya seni merupakan kemerdekaan dan sebuah spirit hati dalam menyuarakan persoalan yang terjadi di masyrakat. Apa yang di lihat dan terjadi, oleh para seniman dan musisi di implementasikan ke sebuah goresan karya seni. 
 
"Ketika ada sebuah batas yang membatasi sebuah ruang gerak kreatif, ini yang menjadi masalah. Kami minta RUU Permusikan dihapus, karen sangat membatasi ruang gerak dalam berkreatif," tegasnya.
 
Salah satu musisi jalanan, yang akrab disapa Bonet menuturkan, dalam RUU Permusik di dalamnya ada Pasal 5 dan pasal 50 yang mengarah tentang pembungkam suara perlawanan dan kritis. Rancangana ini terkesan adanya kepentingan politik, bukan kepentingan para seniman dan musisi.
 
"Kami seperti dikeberi, tidak bisa menyuarakan perjuangan dan suara hati, RUU terkesan tidak bermutu dan lebih ke arah pembodohan," terangnya.
 
Di Tempat yang sama, Ketua Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Kota Bogor Rizal Ucok menuturkan, tidak hanya aksi damai dan long march dari Tugu Kujang ke Taman Ekspersi Sempur. Dalam waktu dekat, pihaknya juga bakal bendatangi  Anggota DPRD Kota Bogor guna
menyuarakan penolakan RUU Pemusikan.
 
"Terkait di pasal 50 RUU Permusikan, didalamnya ada sebuah pembatasan tentang kebebasaan para musisi dalam menyuarakan isu -isu kesenjangan sosial di tengah masyrakat.  Jika itu dilakukan bisa dipenjarakan.  Tentunya pasal itu, sangat memberatkan karena sudah membatasi ruang kreatif para musisi dan seniman. Ada 19 pasal karet yang notabennya sangat mengangu para musisi jalan yang selama ini independen, itu yang kami tolak dalam RUU Permusikan," pungkasnya.