BTN Bidik Dua Juta Unit Rumah

BTN Bidik Dua Juta Unit Rumah
INILAH, Bandung - Pada 2019 ini, PT Bank Tabungan Negara (BTN) memasang target sasaran. Sebagai upaya memperkecil angka backlog, BUMN perbankan yang fokus untuk pembiayaan rumah itu optimistis bisa membangun hingga dua juta unit.
 
Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, pemerintahan kali ini memberikan kontribusi besar bagi program sejuta rumah melebihi pemerintahan sebelumnya. Berdasarkan hal itu, dia optimistis ke depannya upaya untuk memperkecil kesenjangan antara permintaan dan suplai rumah akan tercapai.
 
“Program sejuta rumah itu tidak berarti membangun satu juta unit. Buktinya, tahun 2018 kemarin bisa membangun 1,1 juta unit. Ke depan, kita harapkan bisa tercapai dua juta unit atau bahkan tiga juta unit,” kata Maryono seperti dikutip Antara, Minggu (10/2/2019).
 
Menurutnya, optimisme itu akan dijalankan melalui jajaran manajemen. Pada program satu juta rumah 2018 lalu, dia menyebutkan BTN berkontribusi dari sisi pembiayaan sebanyak 750 ribu unit. Sedangkan, sepanjang 2019 ini pihaknya menargetkan minimal dapat tercapai 850 ribu unit.
 
Untuk memenuhi target pembiayaan perumahan itu, Maryono menegaskan itu dibutuhkan percepatan terkait persetujuan pemberian kredit. Pada 2019 ini, perusahaan telah mengembangkan layanan kredit pemilikan rumah (KPR) secara online.
 
“Kami harap tahun ini dapat mempertahankan kinerja seperti pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga di atas rata-rata perbankan nasional. Begitu juga jumlah aset yang menempati peringkat lima perbankan nasional,” ujarnya.
 
Lebih jauh dia menjelaskan agar agar bisa menutup backlog hingga 50% itu membutuhkan kapasitas produksi lima juta unit dalam kurun waktu lima tahun. Untuk meningkatkan kapasitas produksi rumah, setiap tahun BTN memberikan pelatihan kepada pengembang baru minimal 1.000 per tahun.
 
“Agar dapat dicapai sangat tergantung dari kesiapan teman-teman pengembang dan masyarakat. Peran BTN dalam hal ini sebagai perantara melalui pembiayaan,” tambahnya.
 
Maryono mengatakan, bagi BTN untuk memperbesar kapasitas pembiayaan bukan menjadi masalah bisa mencari dari berbagai sumber. Mulai dari penerbitan obligasi, sekuritisasi aset, hingga dana pihak ketiga.
 
“Setidaknya, itu  membutuhkan dana Rp7 triliun yang diblended dari berbagai sumber seperti obligasi, sekuritisasi aset, dana pihak ketiga. Untuk obligasi sendiri diperkirakan akan diterbitkan Rp3 triliun di tahun 2019,” jelasnya.
 
Di bagian lain, BTN kini menduduki peringat lima dari sisi aset perbankan nasional. Sepanjang 2018 lalu jumlahnya menembus Rp300 triliun atau naik 17% dibandingkan capaian 2017 sebesar Rp261,5 triliun.
 
Maryono menjelaskan, dalam kurun 69 tahun pengabdiannya BTN merealisasikan kredit sekitar Rp523 triliun yang didominasi KPR. Kredit dan pembiayaan tersebut mengalir kepada lebih dari 4,5 juta keluarga di Indonesia. 
 
“Peningkatan aset dan kucuran kredit BTN banyak didorong oleh Program Sejuta Rumah yang diinisasi Pemerintah pada tahun 2015. Dimana program memacu Bank BTN untuk melakukan inovasi produk KPR dan skema kredit yang memudahkan masyarakat berpenghasilan rendah hingga milenial untuk memiliki rumah,” ujarnya.
 
Dia menuturkan, sejumlah strategi telah disiapkan dalam rencana 2019 ini. Di antaranya dengan meningkatkan kerja sama dengan instansi atau pihak swasta untuk jasa layanan perbankan, khususnya pembiayaan perumahan. Selanjutnya, mengembangkan digital ecosystem dengan memperkuat fitur-fitur dari digital channel Bank BTN untuk layanan perbankan baik transaksi maupun kredit demi menghadapi disrupsi ekonomi yang terjadi. 
 
Selain itu , pihaknya memperkuat kemitraan dengan pemerintah pusat dan daerah untuk pembiayaan dan penyediaan perumahan. Strategi terakhir yaitu menyelaraskan program dan target perseroan dengan misi pemerintah dalam holding perbankan serta program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang akan direalisasikan. 
 
“Untuk menjalankan strategi tersebut tentu kami harus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas perusahaan agar dapat memenuhi target-target yang dipasang pemerintah untuk mengurangi backlog perumahan yang saat ini masih di kisaran 11 juta unit,” ucapnya.
 
Pada 2019 ini diakuinya merupakan tahun penentuan bagi BTN. Pasalnya, sejumlah program yang akan memperkuat peran perbankan sebagai kontributor terbesar di Program Sejuta Rumah berjalan. Antara lain pembiayaan perumahan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI/Polri, dan rencana pemerintah untuk menggulirkan program Tapera selain keberlanjutan program sejuta rumah oleh pemerintah. 
 
“Ketiga hal ini akan menentukan dominasi Bank BTN untuk menguasai bisnis KPR baik subsidi maupun non subsidi,” tambahnya. 
Sejauh ini, per Juni 2018 lalu BTN menguasai pangsa pasar KPR subsidi di Indonesia lebih dari 94%. Sedangkan, untuk KPR secara nasional BTN menguasai sekitar 37%.