Bojong Kulur Terendam Lagi, Rame-rame Desak Kementerian PUPR

Bojong Kulur Terendam Lagi, Rame-rame Desak Kementerian PUPR
Bencana alam kembali menimpa warga Desa Bojongkulur, Gunung Putri Kabupaten Bogor. (Istimewa)

INILAH, Bogor- Bencana alam kembali menimpa warga Desa Bojongkulur, Gunung Putri Kabupaten Bogor. Alhasil 3 perumahan, 22 Rukun Warga, 5.500 keluarga dan 22.000 jiwa terdampak.

Banjir tahunan ini kembali menimpa warga perumahan ini, tak kalah dengan kejadian awal tahun 2020 ini ketinggian mata air mencapai 170 meter, hingga warga di Perum Villa Nusa Indah 1, Villa Nusa Indah 2 dan Perumahan Bumi Mutiara mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Walaupun berdampak luas, namun berkat kesiapan relawan desa tanggap bencana (Destana), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Forum Pengurangan Relawan Bencana (FPRB) dan Komunitas Peduli Cikeas Cileungsi (KP2C) maka bencana alam banjir ini tidak menelan korban jiwa.

"Sabtu malam kemarin pukul 19.15  WIB berdasarkan hasil pantauan sejak sore kami mengingatkan warga Desa Bojong Kulur bahwa dengan ketinggian air yang terus meningkat maka akan ada potensi banjir pada sekitar pukul 22.00 WIB, dengan peringatan itu  mulai menyelamatkan barang-barang, dimana 
1.100 warga yang terancam keselamatan jiwanya  pun mengungsi ke tempat yang lebih aman hingga tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini," ucap Ketua KP2C Puarman kepada wartawan, Minggu, (25/10)

Dengan terulangnya lagi bencana alam banjir ini, mewakili warga terdampak di Desa Bojong Kulur, ia pun mendesak agar pemerintah pusat segera merealisasi program normalisasi sungai dan pembangunan Waduk Narogong.

"Kami mendesak agar Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk membangun segera Waduk Narogong dan normalisasi Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi, dengan langkah diatas kami menyakini menjadi solusi masalah tahunan ini. Sementara untuk antisipasi jangka pendek kami meminta Pemkab Bogor menambah jumlah pompa air," sambungnya.

Mendengar bahwa Desa Bojong Kulur lagi tertimpa musibah, Bupati Bogor Ade Yasin dengan didampingi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait pun meninjau ke lokasi bencana alam banjir.

"Hujan yang deras kemarin menyebabkan ketinggian mata air lebih dari  600, namun karena sebelumnya baik warga maupun Pemkab Bogor sudah menyiapkan 19 pompa air maka bisa mengurangi resiko bencana alam banjir," kata Ade.

Setuju dengan warganya,  ia pun meminta 
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  (KemenPU-PR) untuk segera melaksanakan rencana kerja  yang komprehensif dan terintegrasi.

"Pemkab Bogor sudah meminta BBWS Ciliwung-Cisadane segera melakukan pembangunan Waduk Narogong dan normalisasi Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi hingga kedepan  bisa mengurangi potensi bencana alam banjir, Bulan November nanti rencananya bakal
ada sosialisasi proyek-proyek diatas," tambahnya.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor Lestya Irmawati menjelaskan baik proyek pembangunan Waduk Narogong, normalisasi Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi akn dilakukan pada Tahun 2021 mendatang.

"Proyek pembangunan Waduk Narogong, normalisasi Sungai Cikeas dan Sungai Cileungsi akan dilakukan pada Tahun 2021 mendatang dan dilakukan secara tahun jamak atau multi year, untuk pembangunan Waduk Narogong ini rencananya menelan total biaya hingga Rp 250 miliar. Saat ini Direktorat Jenderal Cipta Karya KemenPU-PR saat ini masih terus menyusun Detail Engineeribg Designnya (DED), selain itu Pemkab Bogor sejak beberapa waktu lalu sudah melakukan pembangunan pompa air dan penghijauan didaerah sempadan sungai serta di lahan-lahan kritis," jelas Irma sapaan akrabnya. (Reza Zurifwan)