Jabar Optimalkan Mitigasi Bencana

Jabar Optimalkan Mitigasi Bencana
istimewa

INILAH, Bandung-Rentetan bencana terjadi di Jawa Barat, khususnya wilayah Selatan memasuki musim hujan ini. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar bersama kota kabupaten bersinergi mengoptimalkan langkah mitigasi. 

 

Kepala Pelaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat Dani Ramdan mengatakan, saat ini Jabar Selatan masuk dalam zona musim hujan. Sebut saja Tasik Selatan, Garut Selatan dan Pangandaran. 

 

"Nanti masuk ke November Desember akan mulai bergeser ke Tengah terus ke Utara," ujar Dani, Minggu (25/11/2020).

 

Menurut Dani, musim penghujan acap kali menghadirkan fenomena banjir hingga longsor. Sebagai upaya persiapan meminimalisir dampak bencana, Gubernur Jabar Ridwan Kamil telah mengumpulkan sejumlah daerah di Pangandaran, Jumat (23/10/2020) lalu.

 

"Dikumpulkan di Pangandaran oleh pak gubernur untuk dibriefing langkah (mitigasi)," ucap dia. 

 

Dia melanjutkan, adapun sejumlah langkah mitigasi tersebut di antaranya menyusun atau inventarisir potensi bencana di setiap daerah yang bisa saja terjadi karena kondisi lingkungan. Pada kesempatan itu pula dilakukan rapat koordinasi, mengingat terkait kebencanaan harus ditangulangi oleh lintas sektor.

 

"Seperti sungai di Jabar, itu harus melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Menyangkut hutan harus dengan Perhutani atau Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA). Belum lagi perkebunan, dengan dinas PU, dinas sosial," paparnya. 

 

Kemudian melalukan apel siaga untuk mengecek kesiapan personel dan peralatan. "Nah beberapa kabupaten sudah melaksanakan kemarin dan ada yang akan menyusul," imbuhnya.

 

Lebih lanjut, Dani menjelaskan, musim hujan di Jabar tidak menyeluruh terjadi di setiap daerah. Di saat ini masih terjadi di Jabar Selatan dan akan bergeser menunju Tengah lalu ke Jabar Utara. 

 

"Zona musimnya itu seperti puzzle tidak lurus rata, artinya zona musim hujannya tidak berbarengan seluruh Jabar, tapi akan bergantian," katanya.

 

Adapun untuk daerah yang telah diterjang banjir, seperti Pamengpeuk, Tasik dan Sukabumi, Dani mengatakan, masyarakat sekitar dan aparat turut serta menyikapi dampak bencana tersebut. Di antaranya dalam membersihkan lumpur yang tersisa setelah genangan surut. 

 

"Kalau tindakan longsor yang menutupi jalan seluruhnya sudah, kecuali yang putus badan jalan ini kita pakai jembatan sementara. Itu ada di Tasik tapi bukan jalan utama, penghubung dua desa jadi masih bisa pakai alternatif lain," paparnya. 

 

Sementara untuk rumah warga yang mengalami kerusakan ringan, menurut Dani dapat ditangani oleh masing-masing dengan diberikan bantuan. Sementara yang rusak berat, pihaknya sedang mengajukan untuk mendapatkan bantuan pemulihan.

 

"Total 50 rumah (rusak berat) selama banjir pamengpeuk banjir Tasik di dua lokasi itu. Dan Sukabumi," katanya. 

 

Penyesuaian di masa Pandemi 

 

Dani mengatakan, terdapat penyesuaian dalam menyikapi bencana alam di masa Pandemi Covid-19. Khususnya dalam tahap gawat darurat di tempat evakuasi atau maupun pemukiman yang berpotensi terjadi kerumunan. 

 

Karena itu, pihaknya telah menyiapkan sejumlah tempat evakuasi yang dilengkapi dengan protokol kesehatan. Di sisi lain, masyarakat khususnya di pedesaan pun lebih memilih mengungsi di rumah kerabatnya masing-masing. 

 

"Nah ini sebenarnya lebih baik, karena di pengungsian pun semuanya belum bisa dilakukan sekat untuk jaga jarak. Jadi pilihan kalau bisa di mengungsi kerabat itu yang kita lakukan. Adapun bantuan logistik petugas kami yang mendistribusikan," pungkasnya. (riantonurdiansyah).

 

 

 

Masyarkat terdampak Bencana Sepanjang 2020: 

 

- Desa Cikelet 85 KK / 280 Jiwa terdampak

85 unit rumah terancam

- Disa Linggamanik 31 KK/ 99 Jiwa terdampak

26 unit rumah terancam dan 5 unit rumah rusak berat (RB), 1 ruas jalan

terdampak, 1 ruas jalan lingkungan terdampak

- Desa Pamalayan 2 KK / 9 jiwa terdampak

2 unit rumah terancam

- Desa Cijambe 4 KK terdampak

3 Unit rumah rusak berat (RB) dan 1 unit rumah rusak sedang (RS)

 

Kecamatan Peundeuy :

- Desa Saribakti 6 KK / 25 jiwa terdampak, 14 jiwa mengungsi

3 uit rumah rusak berat (RB), 3 unit rumah rusak sedang (RS)

- Desa Purwajaya 2 KK / 10 jiwa terdampak

3 unit rumah rusak sedang (RS), 1 unit posyandu rusak dan 1 ruas jalan terdampak

- Desa Peundeuy 4 KK / 12 jiwa terdampak 2 jiwa mengungsi

2 unit rumah rusak berat (RB), 4 unit rumah rusak sedang (RS), 2 ruas jalan

terdampak

- Desa Toblong 2 KK / 10 Jiwa terdampak

2 unit rumah rusak sedang (RS)

- Desa Sukanagara 5 KK / 16 Jiwa terdampak, 6 jiwa mengungsi

1 unit rumah rusak berat (RB), 4 unit rumah rusak sedang (RS), 2 ruas jalan

terdampak

- Desa Pangrumasan 1 KK 3 jiwa terdampak

2 unit rumah rusak sedang (RS), 1 ruas jalan terdampak

 

Kecamatan Cisompet :

- Desa Cikondang 11 KK / 33 Jiwa terdampak, 33 jiwa mengungsi

6 unit rumah rusak berat (RB), 3 unit rumah rusak ringan (RR), 1 masjid

terdampak, 1 jembatan terdampak, 3 ruas jalan lingkungan terdampak.

- Desa Neglasari 11 KK / 44 jiwa terdampak

- Desa Sukanagara 1 KK / 3 jiwa terdampak

2 unit rumah rusak sedang (RS), 15 unit rumah terancam, 1 ruas jalan

terdampak, 1 ruas jalan lingkungan terdampak

- Desa Sindangsari 2 unit ruas jalan lingkungan terdampak

- Desa Depok 185 KK / 673 jiwa terdampak

1 jembatan penghubung desa terputus

- Desa Cisompet 1 KK / 1 jiwa terdampak, 1 jiwa mengungsi

6 unit rumah terancam dan 1 ruas jalan lingkungan terdampak

- Desa Sukamukti 5 KK / 20 jiwa terdampak

5 unit rumah rusak ringan (RR), 30 unit rumah teran…

 

Kecamatan Banjarwangi :

- Desa Banjarwangi 8 KK / 29 Jiwa terdampak

- 8 unit rumah terancam

 

TOTAL TERDAMPAK DI 4 KECAMATAN :

371 KK / 1297 terdampak KABUPATEN GARUT