Sikap Kami: Belajar dari Bojongkulur

Sikap Kami: Belajar dari Bojongkulur

SEBAGAI salah satu daerah dengan tingkat bencana alam tertinggi di Indonesia, mitigasi kebencanaan harus diperkuat di Jawa Barat. Tentu melibatkan warga. Dari Bojongkulur kita bisa banyak belajar.

Malam Minggu lalu, banjir melanda Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Cukup dahsyat. Ketinggian air, pada titik dan waktu tertentu, ada yang mencapai 1,7 meter.

Tak ada korban jiwa. Sebab, sebelum air datang, warga setempat, terutama di tiga perumahan, sudah mendapat peringatan. Yang mengingatkan Komunitas Peduli Cikeas-Cileungsi (KP2C).

KP2C adalah sebuah komunitas warga. Dia mampu memainkan peran dalam hal mitigasi bencana. Atas peran lembaga ini, juga Relawan Desa Tanggap Bencana (Destana) dan Forum Pengurangan Relawan Bencana (FPRB), potensi kerugian dalam bencana banjir di Gunung Putri bisa ditekan.

Rasa-rasanya, lembaga warga semacam itu perlu diperbanyak di Jawa Barat. Mereka, karena berangkat dari rakyat, merasakan kesulitan warga, memiliki kepedulian terhadap saudara, tetangga, dan warganya.

Kita memandang relawan-relawan semacam itu sangat baik dalam hal menghadirkan mitigasi bencana di wilayah kita. Tengok saja, pukul 19.15 WIB, ketika hujan turun, mereka sudah memberitahu warga soal ancaman banjir.

Kelompok-kelompok komunitas dan relawan itu, sepatutnya diperbanyak kehadirannya di Jawa Barat. Terutama di wilayah selatan yang rentan terhadap bencana banjir, longsor, bahkan gempa.

Mereka memiliki kemampuan menjadi jembatan komunikasi pemerintah dengan warga sekitar. Terlebih, karena komunikasinya pun menggunakan hati. Demi menyelamatkan warga, tetangga, dan keluarga.

Jika lembaga, relawan, dan komunitas semacam itu tersebar banyak di Jawa Barat, kita meyakini upaya meminimalisir dampak bencana akan lebih kuat. Mereka bisa menekan korban bencana, baik korban jiwa maupun material, karena sudah menyiapkan secara sederhana jalan keluar bagi warga jika terjadi bencana.

Tidak ada ukuran pasti, tapi dampak bencana alam di Jawa Barat kita rasakan masih tinggi. Tahun lalu saja, sepanjang Januari-November 2019, tercatat terjadi 1.740 bencana alam di Jawa Barat dengan korban nyawa 32 orang, mengakibatkan 93.076 warga terdampak dan 20.870 rumah terdampak, hampir 5 ribu di antara rusak.

Angka itu, kita yakini, masih bisa ditekan jika melibatkan peran serta semua pihak. Sebab, di antara bencana-bencana tersebut, ada juga yang bisa diprediksi seperti datangnya banjir.

Siapa tahu, Pemprov Jabar juga bisa menghadirkan figur publik sebagai duta mitigasi. Tapi, tentu bukan seperti duta kuliner yang belakangan ketap menghadirkan masalah itu. (*)