Kisah Jurnalis Penyintas Melawan Covid-19, Pesan Sang Ibu Menjadi Motivasi

Kisah Jurnalis Penyintas Melawan Covid-19, Pesan Sang Ibu Menjadi Motivasi
Foto: Ridwan Abdul Malik

INILAH, Bandung - Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M) kini menjadi kebiasaan Muhamad Ridwan Firdaus (24) selama sebulan terakhir. Kebiasaan itu, Dia lakukan pasca dirinya divonis terpapar Covid-19. 

Mulanya, Ridwan tidak percaya dengan adanya Covid-19. Profesinya sebagai seorang jurnalis tidak menjadi jaminan Ridwan percaya akan Covid-19. 

Seperti kondisi normal, Ridwan menjalani hari secara normal tanpa prokotol kesehatan. Biasanya, usai melakukan peliputan, Dia berkerumun dengan teman sejawatnya untuk menulis berita dan nongkrong di sebuah kafe. 

"Awalnya saya tidak percaya, karena kan banyaknya isu-isu miring tentang Covid-19. Saya sering abai terhadap prokotol kesehatan," ucap Ridwan saat ditemui di kediamannya, Jalan Budi, Cicendo, Kota Bandung, Senin (26/10/2020). 

Semuanya berubah ketika tanggal 12 September 2020, dimana dia dan rekan-rekan jurnalis lainnya mengikuti tes swab yang diselenggarakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat, di Saparua Kota Bandung. 

Dengan penuh percaya diri, Ridwan mengikuti test swab tanpa rasa takut atau cemas. Namun, kepercayaan diri jurnalis muda tersebut hilang pasca diumumkannya hasil swab test oleh Dinkes Provinsi Jawa Barat. 

"Tanggal saya diperiksa swab dari Dinkes Provinsi Jawa Barat tanggal 12 September, keluar hasil 15 September dan dinyatakan terpapar Covid-19," ujarnya. 

Pasca diumumkannya hasil swab test oleh Dinkes Provinsi Jawa Barat. Kepercayaan diri Ridwan pun mulai runtuh. Pasalnya, Dia mengaku tidak merasakan gejala apapun seperti hal nya yang dia tulis dalam beritanya terkait gejala Covid-19. 

Tak tanggung-tanggung, mahasiswa asal Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung itu sempat mengalami gelaja psikomatik. Umumnya, gejala psikosomatik mirip dengan gangguan kecemasan, seperti nyeri dada, sesak napas, merasa tubuh terlalu panas atau demam. 

"Pertama dapat kabar saya positif saya sangat terpukul dan sempat tidak percaya. Karena merasa diri saya sehat. Justru saya merasakan demam sehari setelah menerima kabar tersebut. Mungkin karena shock karena sebelumnya saya sehat," ungkap Ridwan. 

Menjalani Isolasi Mandiri

Usai dinyatakan positif, Ridwan pun diharuskan menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Pada masa awal isolasi, hari ke hari dia lewati dengan penuh kecemasan dan ketidakpuasan akan hasil yang menyatakan dirinya positif Covid-19. 

Bukan tanpa alasan, dia mengetahui betul stigma masyarakat terhadap penderita Covid-19 tidaklah baik. Mulai dari dikucilkan hingga, anggapan bahwa penderita dapat menjadi musibah bagi masyarakat lainnya. 

"Saya stres karena stigma atau pandangan masyarakat terhadap pengidap Covid-19. Jujur saja ada beberapa kelompok masyarakat yang membuat psikis pengidap Covid-19 down, sehingga menurunkan imunitas dan malah jadi memperparah kesehatan penyintas," tuturnya. 

Namun, memasuki minggu kedua masa isolasi itu Ridwan pun mulai menerima dan berupaya untuk sembuh. Dia melakukan aktivitas olahraga, menjaga asupan makanan, menghibur diri dengan bermain game atau nonton film sambil tetap melakukan isolasi mandiri. 

Ridwan menyebutkan, semuanya berubah ketika sang ibunda Nurhayati (42) terus memberikan motivasi baginya. Sang ibu berpesan, bahwa semua yang terjadi sudah kehendak Tuhan dan manusia hanya bisa menerima dan berusaha bangkit. 

Motivasi Nurhayatilah yang membuatnya kuat dan bertahan menjalani isolasi mandiri. Ridwan percaya, tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan asal mau berusaha dan bangkit. 

"Beruntung ada orang tua terus memberikan motivasi untuk tetap tenang dan menerima kondisi saya, mereka meminta saya untuk melakukan isolasi di kamar. Selama isolasi mandiri, saya fokus pada penyembuhan mandiri salah satunya penguatan imunitas, mulai dari menghilangkan pikiran negatif tentang penyintas ataupun Covid-19. Setiap harinya saya sempatkan pagi-pagi untuk berloahraga di rumah, dan berjemur serta makan makanan sehat," papar Ridwan. 

Berhasil Sembuh dari Covid-19

Setelah menjalani isolasi mandiri selama 14 hari, Ridwan pun mendapatkan informasi dari Dinas Kesehatan Kota Bandung untuk melakukan test swab kembali. Berbeda dari test swab sebelumnya, dia berangkat ke tempat pengetesan dengan protokol kesehatan lengkap. Mulai dari menggunakan masker ganda, sarung tangan hingga menggunakan jaket tangan panjang. 

Selain itu, Ridwan berangkat dengan penuh harapan dan doa dari sang ibunda. Sebelum pergi di test swab, dia meminta doa dan restu dari Nurhayati yang menjadi motivator selama menjalani isolasi mandiri. 

Isolasi mandiri selama 14 hari dan doa sang ibu nyatanya membuahkan hasil baik. Hasil swab test Ridwan dinyatakan negatif. Artinya, jurnalis muda itu dinyatakan sembuh dari Covid-19. 

"Setelah melakukan isolasi mandiri selama 14 hari, saya pun mendapatkan arahan dan undangan untuk melakukan swab kembali di dinkes kota bandung. Alhamdulillah hasil swab di dinkes kota bandung menyatakan saya negatif dan telah sembuh," ujar Ridwan sambil tersenyum. 

Pesan dari Sang Penyintas

Pasca dinyatakan negatif Covid-19. Hari-hari Ridwan pun berubah, kini dia lebih memperhatikan protokol kesehatan Covid-19. Seperti anjuran pemerintah, dia pun menjalani hari dengan menerapkan protokol kesehatan 3M.

Akhirnya, Ridwan pun percaya bahwasaanya Covid-19 nyata adanya. Virus ini tidak memandang siapapun, berapa usia, dan gender. 

"Berkaca pada pengalaman yang saya alami, saya minta kepada generasi muda untuk tidak mengabaikan dan meremehkan Covid-19. Tetapi jangan takut berlebihan juga, dan tetap ikuti anjuran pemerintah terkait protokol kesehatan Covid-19," ucap Ridwan. 

Terakhir, dia meminta masyarakat tidak memberikan stigma buruk bagi para penyintas. Pasalnya, stigma buruk hanya akan memperparah luka dan kondisi penyintas, alhasil proses penyembuhan pun bisa memakan waktu cukup lama. 

Ridwan juga berpesan, untuk para penyintas dimanapun berada untuk tetap optimis dan bangkit melawan Covid-19. Dia percaya, Tuhan tidak akan memberikan musibah melebihi kemampuan hambanya. 

"Kemudian, jika ada kerabat atau sodara kena Covid-19 jangan pernah dikucilkan, justru mereka membutuhkan motivasi untuk bangkit dan sembuh, Covid-19 bukan aib, tapi musibah saja yang menimpa pengidapnya," pungkasnya.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisan jurnalis muda Muhamad Ridwan Firdaus yang terpapar Covid-19. Tetap sehat dan jaga prokotol kesehatan. (Ridwan Abdul Malik)