Praktisi Kesehatan: Jangan Lengah Prokes Cegah Klaster Keluarga

Praktisi Kesehatan: Jangan Lengah Prokes Cegah Klaster Keluarga
Ilustrasi (zaenulmukhtar)

INILAH, Garut - Penularan Covid-19 paling sering terjadi karena lengahnya orang dalam melaksanakan protokol kesehatan (prokes), mulai dari memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak.

Sikap abai atau lengah paling sering terjadi ketika bersua antarteman, rekan kerja, kerabat, atau anggota keluarga. Itu pula yang menyebabkan kasus Covid-19 pada klaster keluarga di Jakarta sangat tinggi.

Hal itu dikemukakan Praktisi Kesehatan Lula Kamal pada Diskusi Online Stigmatisasi terhadap Penderita Covid-19 dan Tenaga Kesehatan Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku (FJPP) belum lama ini.

Karena itulah, Lula menegaskan, tenaga kesehatan bukanlah pembawa virus dan penyebab penyebaran Covid-19 pada klaster keluarga, meskipun fasilitas kesehatan diakui merupakan tempat berisiko tinggi karena segala macam keluhan sakit datang.

"Penularan (di kalangan tenaga kesehatan) terjadi bukan saat menangani pasien,  tapi ketika setelah membuka APD (alat perlindungan diri), ketika berkumpul di ruang kantor, saat di ruang ganti pakaian, dan saat berada di rumah. Penularan virus terjadi karena abai atau lengah. Yang paling aman, harusnya ada audit tenaga kesehatan," ujarnya.

Untuk bisa mencegah penularan Covid-19, ingat Lula, semua orang hendaknya jangan lengah dan tetap menerapkan prokes dalam setiap kegiatannya. "Yang paling harus dijaga protokol kesehatannya, siapa yang paling sering keluar rumah !" ingatnya.

Menurut Lula, dalam perang melawan Covid-19 itu yang menjadi pahlawan sesungguhnya adalah masyarakat sendiri. Sebab, masyarakatlah yang paling bisa menghadapi Covid-19. Setiap orang dalam masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menghadapi Covid-19 tersebut,

"Tenaga kesehatan takkan punya tenaga cukup, kalau masyarakat yang sakit datang berbondong-bondong," katanya.

Berkaitan klaster keluarga, kasus penularan virus Sars-Cov2 atau Covid-19 pada klaster keluarga di Kabupaten Garut menunjukkan peningkatan signifikan.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Garut mencatat, hingga 30 Oktober 2020, total jumlah kasus positif Covid-19 di Kabupaten Garut bertambah menjadi sebanyak 716 kasus dengan didominasi klaster keluarga diikuti klaster pesantren.

Ada penambahan volume harian kasus baru positif Covid-19 sebanyak tiga orang, yakni perempuan (KC-714) usia 57 tahun dari Kecamatan Karangpawitan, serta laki-laki (KC-715) usia 14 tahun dan laki-laki (KC-716) usia 21 tahun dari Kecamatan Cilawu.

Karena tingginya penularan Covid-19 pada klaster keluarga itu, Koordinator Humas GTPP Covid-19 Garut Muksin kembali mengingatkan masyarakat agar terus menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan di dalam keluarga sebagai upaya pencegahan terjadinya penularan virus antaranggota keluarga dengan melaksanakan prokes tiga M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak).

Muksin menyebutkan, selain ada penambahan tiga kasus baru Covid-19, terdapat pula penambahan enam pasien dinyatakan sembuh. Sehingga total mereka yang sembuh dari Covid-19 bertambah menjadi sebanyak 395 orang. Sedangkan pasien positif Covid-19 masih dalam isolasi perawatan di rumah sakit mencapai 306 orang. (zainulmukhtar)