Catat, Ini Wilayah Rawan Pergerakan Tanah di Purwakarta

Catat, Ini Wilayah Rawan Pergerakan Tanah di Purwakarta
ilustrasi/net

INILAH, Purwakarta – Intensitas hujan yang turun di Kabupaten Purwakarta mulai menunjukan peningkatan sejak beberapa hari terakhir ini. Kondisi tersebut patut diwaspadai. Mengingat, beberapa wilayah di kabupaten ini rawan bencana alam di kala pergantian musim seperti sekarang ini.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DOKPB) Kabupaten Purwakarta Wahyu Wibisono menuturkan, saat ini jajarannya telah pasang mata dan mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna menghadapi bencana alam musiman ini. Salah satu bencana alam yang paling diantisipasi adalah pergerakan tanah atau longsor.

“Memasuki musim penghujan ini, longsor menjadi bencana alam yang paling kami waspadai,” ujar Wahyu kepada wartawan, akhir pekan kemarin.

Wahyu menjelaskan, pihaknya telah memetakan wilayah yang rawan pergerakan tanah ini. Di wilayahnya sendiri, terdapat tiga jenis zona gerakan tanah. Yakni, zona hijau (kerentanan gerakan tanah rendah), zona kuning (kerentanan gerakan tanah sedang), serta zona mereh (kerentanan gerakan tanah tinggi).

“Dari semua wilayah ini, yang diwaspadai adalah zona merah dan kuning. Untuk wilayah zona merah, tersebar di beberapa desa. Desa-desa ini, terdapat di 13 dari 17 kecamatan yang ada ,” jelas dia.

Adapun 12 kecamatan yang dimaksud yaitu Kecamatan Cibatu, Darangdan, Jatiluhur, Kiarapedes, Wanayasa, Pondoksalam, Pasawahan, Sukasari, Sukatani, Maniis, Tegalwaru, Plered dan Kecamatan Purwakarta kota.

“Sedangkan untuk wilayah yang zona kuning atau kerentanan gerakan tanah sedang, itu berada di dua kecamatan. Yakni, Babakan Cikao dan Bojong. Kemudian, yang kategori sedang-rendah, itu di Kecamatan Campaka dan Bungursari. Jika melihat peta, seluruh wilayah memang berpotensi longsor,” terang dia.

Dia menuturkan, untuk wilayah rawan longsor ini kebanyakan berada di daerah perbukitan yang kontur tanahnya jenis lempung. Sehingga, saat diguyur hujan, tanah tersebut bisa menjadi medan luncur. Sehingga, wilayah-wilayah tersebut sejauh ini jadi pengawasan jajarannya.

Wahyu menambahkan, saat ini pihaknya telah menguatkan komunikasi dengan seluruh pihak terkait sebagai langkah antisipasi guna meminimalisasi dampak yang timbul dari bencana alam di pergantian musim ini. Termasuk, menyiagakan pasukan gabungan yang terdiri dari unsur TNI/Polri, BPBD, Tagana, termasuk relawan dari forum relawan penanggulanga bencana dan pramuka.

Selain pasukan, lanjut dia, jajarannya juga telah menyiagakan peralatan untuk penanggulangan bencana alam ini. Misalnya, perahu karet, alat selam, alat berat yang dibantu dari dinas teknis, dapur umum, termasuk tim dan peralatan kesehatan.

Sebagai bagian dari antisipasi, lanjut Wahyu, pihaknya juga mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk lebih tanggap. Hal mana, kalau terjadi bencana di satu wilayah mereka diimbau supaya segera laporkan ke pemkab.

“Dengan komunikasi satu arah ini, diharapkan dampak bencana alam bisa diminimalisasi,” pungkasnya. (Asep Mulyana)