Taufik Basari: Generasi Muda Harus Jadi Agen Keutuhan NKRI

Taufik Basari: Generasi Muda Harus Jadi Agen Keutuhan NKRI
Ketua Fraksi Partai NasDem Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Taufik Basari. (antara)

INILAH, Jakarta - Ketua Fraksi Partai NasDem Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Taufik Basari mengingatkan generasi muda harus mampu menjadi agen keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kesepakatan mendirikan NKRI ini harus didukung oleh seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali generasi muda. Bahkan, generasi muda harus mampu menjadi agen keutuhan NKRI dengan selalu mempererat persatuan dan kesatuan juga menghalau masuknya ideologi yang bertentangan dengan Pancasila," kata Taufik dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Pernyataan itu disampaikan Taufik saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di hadapan masyarakat Desa Setu, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Sabtu (31/10). Tema yang dibahas pada acara itu adalah "Implementasi Nilai-nilai Pancasila Untuk Restorasi Indonesia".

Menurut dia, NKRI berdiri di atas kesepakatan yang dibangun secara bersama oleh seluruh golongan dan kelompok masyarakat yang ada saat itu sehingga kesepahaman bersama tersebut harus senantiasa dipupuk agar langgeng dan tidak gampang dirusak oleh siapapun.

Sebelum merdeka, kata dia, Indonesia berbentuk suku-suku bangsa, kelompok masyarakat, dan kerajaan.

Ia menyatakan kelompok-kelompok komunitas masyarakat itu hidup secara bersama dengan peran masing masing. Kemudian, datang utusan dagang dari Belanda yang semula niat mereka hanya untuk berdagang tetapi kemudian memonopoli perdagangan dan melakukan penjajahan.

"Hidup di bawah penjajahan itu ternyata tidak nyaman. Karena itu tumbuh lah kesadaran untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah. Namun, perjuangan mereka melepaskan diri dari penjajahan selalu gagal lantaran perjuangan yang dilakukan bersifat sektoral," tuturnya.

Setelah berkali-kali gagal, ucap dia, maka timbul kesadaran kolektif sehingga mereka berjuang bukan untuk kelompoknya sendiri-sendiri, namun untuk kepentingan bersama.

"Kesadaran kolektif para pendiri bangsa ini muncul bersamaan dengan lahirnya politik etik yang digagas pemerintah Belanda. Salah satu kesadaran kolektif itu muncul dalam bentuk Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928," kata Taufik.

Ia menuturkan Sumpah Pemuda melihat bahwa keberagaman suku bangsa, bahasa, adat istiadat, agama, dan ras yang dimiliki bangsa Indonesia adalah kekayaan. Perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia harus dijaga dan dilestarikan karena keberagaman itu bukan untuk memecah belah tetapi untuk mempersatukan.

"Sejak itu muncul lah kebesaran jiwa di kalangan para pendiri bangsa untuk saling berkorban demi kepentingan yang lebih besar," ujar Taufik.

Salah satu bukti pengorbanan dan kesepakatan yang ditunjukkan para pendiri bangsa adalah diterimanya Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa Indonesia.

"Pancasila yang lepas dari tujuh kata dalam Piagam Jakarta seperti yang ditemukan saat ini merupakan bentuk pengorbanan yang harus terus ditumbuh kembangkan dan selalu dilestarikan di bumi Indonesia. Pancasila hasil pengorbanan dan kesepakatan besar para pendiri bangsa itu tidak boleh diganti dengan ideologi dan dasar negara apapun," kata dia. (antara)