Perempuan Paling Rentan Alami Osteoporosis

Perempuan Paling Rentan Alami Osteoporosis
ilustrasi

INILAH, Jakarta - Perempuan banyak mengalami fase dalam kehidupannya. Di setiap fase ini, kepadatan tulang dapat berkurang dan puncaknya saat seorang perempuan memasuki fase menopause.

Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc, Ketua Peneliti Studi tersebut sekaligus Pakar Gizi Medik FKUI-RSCM menjelaskan, kemampuan tubuh dalam menyerap kalsium akan berkurang karena sudah tidak menghasilkan hormon esterogen.

"Perempuan hamil dan menyusui pun menjadi salah satu kelompok risiko Osteoporosis," kata Saptawati Bardosono, MSc, saat webinar kepada media, Jakarta, Minggu, (01/11/2020).

Karena itu, kini saatnya bagi perempuan Indonesia untuk menjaga kesehatan tulang sejak dini.

"Namun sayangnya, kandungan nutrisi di Indonesia pada umumnya mengandung kalsium dan vitamin D dalam level rendah, padahal nutrisi yang cukup dan pola hidup yang sehat merupakan langkah penting untuk untuk mencegah Osteoporosis," papar Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc.

Masih menurutnya, menekankan kalsium dan vitamin D bekerja secara sinergis untuk meningkatkan kesehatan tulang dalam jangka panjang.

"Vitamin D terlibat dalam penyerapan kalsium di usus halus, tanpa asupan vitamin D yang cukup, bisa jadi penyerapan kalsium tidak maksimal. Vitamin D kemudian lebih mengoptimalkan dan menjaga kepadatan mineral tulang atau Bone Mineral Density (BMD), dan meningkatkan kekuatan otot," ujarnya.

Dengan demikian, perempuan Indonesia dianjurkan untuk mengkonsumsi suplementasi yang mengandung Kalsium dan Vitamin D.

"Suplementasi dalam proporsi yang memadai dapat mendukung hasil positif dalam kesehatan tulang," katanya.

Literatur saat ini dengan jelas menunjukkan manfaat kalsium, vitamin D, dan kombinasi suplemen kalsium-vitamin D dalam memenuhi kesenjangan kebutuhan sehari-hari.

Suplementasi kalsium harus selalu diperhatikan terutama untuk anak-anak, remaja, wanita hamil dan lanjut usia.

"Secara keseluruhan, kesadaran untuk menjaga kalsium tubuh pada masyarakat Indonesia masih rendah. Untuk itu perlu untuk terus menerus mendidik masyarakat," ujarnya. (inilah.com)