Hah... Uang Pelicin Suap Meikarta Dibagikan dalam Dus Mi Instan

Hah... Uang Pelicin Suap Meikarta Dibagikan dalam Dus Mi Instan
ilustrasi
INILAH, Bandung- Sopir terdakwa Hendry Jasmen, Ahmad Bahrul Ulum mengaku membagi-bagikan uang kepada pejabat Pemkab Bekasi dalam kresek hitam yang disimpan dalam dua dus.
 
Hal itu terungkap dalam sidang kasus dugaan korupsi izin proyek Meikarta di Pengadilan Tipikor pada PN Klas IA Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Senin (11/2/2019). Sidang dengan terdakwa Billy Sindoro cs menghadirkan dua orang saksi, yakni dari pengembang Meikarta Edi Dwi Soosanto (Edisus)  dan sopir terdakwa Hendry Jasmen, Ahmad Bahrul Ulum.
 
Dalam sidang yang dipimpin Judijanto tersebut, awalnya Tim JPU KPK menananyakan mengenai keterangan Ahmad dalam BAP di penyidikan. Saat itu saksi Ahmad mengaku mengantar Taryudi ke Puncak untuk mengambil barang.
 
Ahmad pun mengakuinya, namun dia tidak menjelaskan barang apa yang dibawanya dari Puncak tresebut. JPU KPK pun kemudian membacakan BAP Ahmad. Dalam keterangannya saat itu Ahmad mendapat telepon dari Henry Jasmen untuk menemani Taryudi.
 
”Saat itu tujuan ke Puncak untuk mengambil ‘Indomie’. Saksi sempat menanyakan namun jawaban Taryudi saat itu menjawab ‘nanti juga tahu sendiri’,” katanya.
 
”Jadi benar Taryudi tidak menyampaikannya,” tanya JPU lagi.
 
“Tidak,” jawab Ahmad dengan tegas.
 
JPU pun kembali membacakan BAP, di Puncak Ahmad dan Taryudi pun bertemu dengan Henry. Namun, saat itu yang keluar hanya Taryudi menghampiri mobil Henry. Saat kembali ke mobil, Henry membawa dus berisi uang.
 
Ahmad pun mengaku mengetahui dalam dus yang dibawa oleh Taryudi itu uang, lantaran saat diperjalanan Taryudi menceritakannya. Saat itu Taryudi menyebutkan, jika uang tersebut sebagai THR untuk memperlancar urusan.
 
Jaksa pun kemudian menayakan yang dimaksud urusan tersebut, Taryudi mengaku dari cerita yang didengarnya dari Taryudi jika urusan yang dimaksud soal perizinan IMB.  
 
Jaksa kemudian melanjutkan. Di hari yang sama pukul 19.00 WIB setelah berbuka puasa, Taryudi meminta kepada Achmad untuk mengantar lagi. Achmad mengantarkan Taryudi untuk bertemu dengan seseorang di SPBU dekat pintu tol Bekasi Barat. Saat itu, kata jaksa, ada plastik hitam yang diduga uang dan kardus air mineral.
 
"Apakah semuanya dibawa oleh Taryudi? Kan tadi Indomie terus kantong plastik?," tanya jaksa.
 
"Sudah dikemas jadi dua," kata Achmad.
 
Selain di SPBU, Achmad menyebutkan di hari yang sama juga dmengantar Taryudi ke sebuah tempat dekat Pemda bekasi. Namun di lokasi kedua tersebut, Achmad mengaku tak melihat siapa orang yang ditemui Taryudi lantasan sedang makan di mobil. Namun belakangan diketahui jika orang tersebut Neneng Rahmi.
 
Selain mengirim uang ke Neneng Rahmi, Ahmad juga mengaku mengantarkan Taryudi untuk mengantar uang ke Sahat Banjarnahor atau Kadiskar Pemkab Bekasi. Sementara uang dalam dus satunya lagi, kembali dibawa Taryudi ke rumah Henri Jasmen.
 
Selain soal aliran dana, dalam persidangan juga tim JPU KPK menggali keterangan dari saksi Edi Dwi Soesanto atau yang dikenal dengan sebutan Edisus. Sebelum diminta keterangannya, JPU memutar rekaman perbincangan antara Edisus dan bos Meikarta Bartholomeus Toto pada 6 Januari 2018.
 
Dalam rekaman tersebut diceritakan jika Toto meminta kepada Edisus agar memfasilitasi pertemuan antara pengusaha James Riady dengan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin (berkas terpisah). Edisus mengaku kemungkinan pertemuan dilakukan karena ada masalah di Pemkab Bekasi yang tak kunjung kelar.
 
Usai persidangan, jaksa KPK Yadyn mengatakan bukti rekaman percakapan dan kesaksian Edi Soes menyanggah keterangan James Riady yang sebelumnya mengaku pertemuan dengan Bupati Neneng hanya kebetulan.