Kios Raib, Pemilik Sertifikat Gugat Click Square ke Pengadilan

Kios Raib, Pemilik Sertifikat Gugat Click Square ke Pengadilan
Foto: Ahmad Sayuti

INILAH, Bandung - Para pemilik tenant eks Be Mall menggeruduk PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Selasa (3/11/2020). Mereka menggugat pengelola baru lantaran semenjak berubah jadi Click Square, kios mereka langsung hilang. 

"Ada 113 pemilik tenant yang kiosnya hilang setelah direnovasi jadi Click Square," kata Johan salah seorang pemilik kios. 

Ia pun menjelaskan, awalnya dia dan 112 pemilik kios lainnya membeli kios dari pengelola Be Mall dengan harga bervariatif sampai lunas. Hingga akhirnya pengelola Be Mall digugat oleh sebuah bank dan dinyatakan pailit. Mereka pun akhirnya mendapatkan sertifikat hak miliknya. 

"Hasil pailit itu kemudian dilelang dan dimenangkan oleh PT ABG (Arta Bumi Gemilang)," ujarnya. 

Namun setelah pergantian pengelolaan, gedung Be Mall kemudian direnovasi dan didesain ulang. Hingga akhirnya mal yang terletak di Jalan Naripan itu berganti nama menjadi Click Square. Tapi, sayangnya para pemilik kios yang sudah memiliki sertifikat tidak dilibatkan.

"Ini yang akhirnya menguasai gedung dan menguasai fisik secara tidak lazim ya. Jadi seolah mau mengusir kita semua. Jadi barang kita di dalam kios itu semua tidak diizinkan untuk diambil malah dibongkar dihancurkan tanpa izin. Bahkan belakangan kami dengar barang-barang kami di dalam kios dijual ke pihak-pihak tertentu," tuturnya. 

Setelah selesai direnovasi, mereka mengaku kaget saat mengetahui kondisi kiosnya sudah hilang karena direnovasi dan di desain ulang. Jadi seolah-olah sertifikat yang ada pada pemilik kios seperti bodong, padahal semua resmi.

Pemilik tenant lain, Sudarmono menambahkan saat proses pembangunan dan desain ulang mal tersebut, ia mengaku tak bisa masuk ke dalam. Padahal barang-barang dagangannya masih ada di dalam. 

"Ceritanya setelah ABG memenangkan lelang ini, kita nggak tahu masalahnya apa, tahu-tahu ditutup. Pintu akses masuk ke parkir nggak bisa ke toko nggak bisa. Teman-teman yang tadinya berjualan itu misalkan ada meja, kursi, barang dagangan kayak laptop, kemudian HP, aksesorisnya termasuk di situ rolling door, etalase itu dibongkar semua. Karena pintu masuk akses sudah ditutup," ujarnya.

Setelah ditutup mereka mau masuk nggak bisa, mau jualan nggak bisa, ngambil barang nggak bisa, setelah beberapa saat mereka bongkar rehab. Justru rehab besar-besaran ini tanpa adanya izin tertulis dari para tenan yang memiliki sertifikat hak milik atas rumah susun statusnya.

Atas dasar itulah mereka melakukan gugatan secara perdata ke PN Bandung. Gugatan sudah diajukan beberapa waktu lalu dan saat ini sudah masuk dalam tahap pembuktian. Sehingga para pemilik tenant mendatangi PN Bandung guna menyerahkan bukti-bukti sertifikat hak milik. 

"Menuntut hak barang kita yang sekarang dirusak oleh mereka kita minta dikembalikan dengan nilai yang wajar. Menuntut keadilan tidak berlebihan," ujar Handoyo Ojong kuasa hukum para pemilik tenant. 

Handoyo mengatakan pengelola saat ini diduga menganggap memiliki hak atas seluruh bangunan yang ada di mal tersebut usai memenangkan lelang. Sehingga, mereka mengubah desain termasuk milik 113 pemilik tenant. 

"Lelang yang 444 kios itu. Tidak termasuk kios ini. Mereka menganggap membeli keseluruhan apa itu kesengajaan atau gimana kita nggak tahu," katanya. 

Sementara itu, kuasa hukum dari PT ABG, Poltak Simanjuntak belum mau menjelaskan secara rinci terkait gugatan itu. Menurutnya, pihaknya menunggu hasil persidangan. 

"Tunggu hasil putusan saja. Karena sudah masuk. Kalau kami nunggu hasil sidang saja lah," katanya. (Ahmad Sayuti)