Kucing dan Anjing dalam Hadis

Kucing dan Anjing dalam Hadis
Ilustrasi/Net

DALAM hadis shahih, sebagaimana dikutip di dalam kitab Riyadh al-Shalihin, dikisahkan ada seorang perempuan tua yang menghabiskan sisa umurnya dengan beribadah. Ibadah-ibadah sunat apalagi ibadah wajib dilaksanakan. Namun suatu ketika ia mengurung seekor kucing sampai mati lantaran jengkel kucing itu mencuri dan memakan lauknya. Rasulullah berkomentar perempuan itu penghuni neraka.

Dalam kesempatan lain, ada seorang pemuda yang segala macam kejahatan telah dilakukan. Karena begitu menjengkelkan maka masyarakat mengusirnya agar tidak lagi tinggal di kampung itu. Akhirnya sang pemuda hidup sebatangkara di luar perkampungan. Suatu ketika ia menyaksikan seekor anjing kehausan berusaha mencapai dasar telaga untuk mendapatkan air.

Anjing itu menjulurkan lidahnya ke telaga tetapi tidak sampai juga kepada sumber air itu. Akhirnya si pemuda tadi membuka sepatunya lalu menolong anjing itu dengan mengambilkan air dengan menggunakan sepatu itu, lalu ia menyaksikan anjing itu minum dengan lahapnya. Rasulullah berkomentar pemuda itu penghuni syurga.

Kedua hadis di atas sarat dengan makna. Perempuan ahli ibadah ternyata tidak bisa menikmati hasil ibadahnya lantaran mengurung seekor kucing sampai mati. Pelajaran buat kita semua bahwa jangan lantaran ibadah formal yang banyak membuat kita lengah sampai menyebabkan salah seorang makhluk Tuhan mati karena keputusan kita. Mungkin tidak mesti harus menghukum kucing itu sampai mati.

Sedangkan pemuda tukang onar tadi terbetik keikhlasan sejati di dalam dirinya untuk menolong makhluk Tuhan yang sedang kehausan, sehingga ia berhak masuk ke dalam syurganya. Pelajaran bagi kita bahwa sebesar apapun dosa yang kita miliki jika Tuhan akan mengampuni maka tidak ada kesulitas bagi-Nya. Keikhlasan sejati dapat menggugah Tuhan untuk memberikan pengampunan kepada pemuda itu sehingga layak baginya menikmati syurganya.

Pelajaran lain dari kasus ini ialah meskipun itu binatang, apa lagi manusia, jika kita memberikan pertolongan pasti Tuhan akan menghargainya. Sebaliknya menyiksa seekor binatang, apalagi manusia, maka Tuhan berhak untuk murka dan mengirim orang itu ke neraka.

Sebesar apapun kejahatan yang dilakukan hamba-Nya jika Ia datang dengan sifat pengampun dan pemaaf (al-Gafur wa al-afuw) maka keberuntungan yang akan diperoleh pada hamba yang bersangkutan. Sebaliknya, sebesar apapun amal perbuatan hamba-Nya jika Ia datang dengan sifat-Nya Yang Maha Adil dan Maha Pembalas (al-Adl wa al-Muntaqim) maka keprihatinan akan dialami hamba yang bersangkutan.

Kita tidak boleh bangga dengan amal kebajikan yang besar, kita juga tidak boleh pesimistik dengan dosa yang besar, sebab tidak ada amal besar tanpa kasih sayang dan rahmat Tuhan. Dan Tidak ada dosa besar jika Tuhan datang dengan wajah kasih sayang dan rahmat-Nya.

Kita tidak layak menilai seseorang positif hanya lantaran amal formal seseorang itu besar. Kita juga tidak boleh menghina orang hanya lantaran dosanya besar. Tetapi kita percaya Tuhan akan memilihkan seseorang yang paling adil bagi-Nya. Sebab boleh jadi amal besar dimotivasi oleh riya dan boleh jadi seorang berdosa besar tetapi ia menyesali dengan penyesalan sejati (nashuha) sehingga Tuhan mengampuni-Nya.

Namun di atas segalanya, amal kebajikan yang lebih besar, lebih besar pula peluang untuk memperoleh kasih sayang Tuhan. Sebaliknya dosa yang lebih besar maka lebih besar pula peluang untuk memperoleh murka Tuhan. Allahu alam. [nasaruddin umar/*]