Ini Curhat Buruh Perempuan di Kab Bandung ke Cabup Yena Iskandar Ma'soem

Ini Curhat Buruh Perempuan di Kab Bandung ke Cabup Yena Iskandar Ma'soem
Foto: Dani R Nugraha

NILAH,Bandung- Calon bupati (Cabup) nomor urut 2, Yena Iskandar Ma'soem mendapat sejumlah curhatan dari kalangan buruh perempuan yang telah memiliki anak.

Banyak buruh permepuan yang harus berhenti bekerja setelah melahirkan, dengan begitu otomatis mereka tak bisa lagi membantu suami mencari nafkah.

Dikatakan Yena, perusahaan menolak jika buruh perempuan membawa anaknya untuk ikut bekerja. Hal itulah yang kemudian membuat kalangan buruh perempuan memilih untuk mengasuh anaknya ketimbang masuk kerja lagi setelah mendapat cuti lahiran.

"Curhatan-curhatan dari kalangan buruh perempuan ini membuat saya sadar dan berpikir. Akhirnya saya mendapatkan sebuah solusi. Kalau terpilih jadi bupati nanti, saya akan mengimbau setiap perusahaan di Kabupaten Bandung untuk memiliki rumah penitipan anak," kata Yena, Rabu (/11/2020).

Perempuan yang di kontestasi PilbupBandung 2020 didampingi eks Kapten Persib Atep sebagai wakilnya itu melanjutkan, keberadaan rumah penitipan anak bagi buruh atau pekerja yang memiliki balita dinilai akan sangat membantu perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Sebab, kata dia, perusahaan akan kehilangan karyawan jika tak memberikan kesempatan para kalangan buruh perempuan kembali bekerja meski telah memiliki anak. 

"Karena kebanyakan dari kalangan buruh perempuan ini, memilih untuk mengasuh anaknya yang masih balita. Apalagi jika suaminya juga bekerja. Nah ini sebetulnya masalah yang terlihat sepele, tapi dampaknya besar. Karena akan banyak pengangguran lagi kalau tidak ada solusi," ujarnya.

Dengan adanya rumah penitipan anak, kata dia, kalangan buruh perempuan bisa membawa anaknya untuk bekerja. Mereka juga bisa mengasuh dan menyusui saat jam istirahat. Sehingga, kalangan buruh perempuan akan tetap semangat bekerja membantu perekonomian keluarga. 

"Kalau sewa pengasuh kan lebih mahal lagi. Mayoritas dari mereka keberatan soal biaya. Permasalahan ekonomi menjadi kendala. Karena buruh gajinya juga tidak besar. Belum lagi mereka ini kan sebetulnya membantu suaminya. Bukan sebagai tulang punggung keluarga yang sebetulnya," katanya. 

Meski demikian, Yena memahami jika tidak seluruh perusahaan bisa membuatkan rumah penitipan anak. Namun bagi perusahaan besar yang mampu, maka akan diwajibkan untuk membuat rumah penitipan anak tersebut. 

Sementara untuk perusahaan kecil, kata dia, nanti bisa diatur dengan cara patungan dengan sejumlah perusahaan lain dengan sistem zona. Sehingga tempat penitipan anak tidak terpisah jauh dari lokasi pabrik-pabrik kecil yang berada di satu wilayah. 

"Nanti bisa aturan mainnya bisa dilakukan dengan penerbitan Perda," ujarnya.(rd dani r nugraha).